TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

Al-Qosim bin Muhammad (Tabi’in)

Posted by Fayyadh Albandy on 21 August 2010

Fayyadh Albandy

Nasab dan Kehidupan Beliau

Beliau adalah, Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Sidhiq al-Quraisyi at-Taimy Abu Muhammad. Beliau disebut juga dengan Abu Abdurrahman al-Madany.[1]Beliau adalah cucu dari khalifatur rasul, Abu Bakar as-Shidiq Abdulllah bin Abi Quhafah.[2] Selain itu beliau juga disebut Abu Muhammad.[3]

Beliau dilahirkan di kota Madinah pada masa kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib ra.[4] Sejak ayahnya meninggal, beliau hidup dalam keadaan yatim di bawah asuhan dan didikan bibinya, yaitu Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang paling berilmu ketika itu. Sehingga tidaklah mengherankan jika beliau kemudian menjadi seorang alim besar dari generasi tabi’in.[5]

Beliau adalah seorang Imam teladan, al-Hafidz, al-Hujjah. Salah satu dari tujuh ahli fiqih di Madinah. Belaiu seorang alim pada masanya beserta Salim dan Ikrimah, Abu Muhammad dan Abu Abdurrahman al-Quraisyi at-Taimy al-Bakry al-Madany.[6]

Keilmuan, Ibadah, dan Akhlak Beliau

Al-Qasim banyak meriwayatkan hadits di antaranya dari ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar, Ibnu Az-Zubair, Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash, ‘Abdullah bin Ja’far, ‘Abdullah bin Khabbab, Mu’awiyah, Rafi’ bin Khadij dan Aslam -bekas budak Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma-, merupakan seorang tabi’in yang tsiqah (amanah), Fathimah bintu Qais, dan yang lainnya.[7]

Banyak di antara ulama’ ulama’ yang meriwayatkan hadits dari beliau, di antaranya anaknya sendiri Abdurrahman, as-Sya’bi, Nafi’, Salim bin Abdullah, Abu Bakar Ibnu Hazm, Zuhri, dan masih sangat banyak lagi.[8]

Wajar jika kemudian ‘Umar bin Abdul ‘Aziz yang dikenal sebagai khalifah yang adil, tertarik akan keamanahannya. Ia berkata, “Seandainya aku punya sedikit kekuasaan, aku akan jadikan Al-Qasim sebagai khalifah.” Al-Qasim kecil sabar menjalani takdir Allah sebagai anak yatim dalam tarbiyah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Al-Qasim, yang menurut Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu ‘anhuma adalah cucu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu yang paling mirip dengan kakeknya ini, mengatakan: “‘Aisyah adalah seorang mufti wanita dari jaman Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan seterusnya sampai ia meninggal. Aku senantiasa bersimpuh menimba ilmu darinya dan juga duduk belajar kepada Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar”. Ini adalah ungkapan yang mengisyaratkan antusiasnya terhadap ilmu din (agama) meskipun menanggung beban hidup berat sebagai anak yatim.[9]

Ayyub, salah seorang ulama hadits, berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih utama darinya. Ia tidak mau mengambil uang yang halal untuknya senilai seratus ribu dinar”. Ini adalah ungkapan seorang alim yang menunjukkan sifat wara’ dan keutamaan Al-Qasim. Bahkan kehati-hatiannya dalam berfatwa, ia katakan sendiri, “Seseorang hidup dengan kebodohan setelah mengetahui hak Allah, lebih baik baginya daripada ia mengatakan apa-apa yang ia tidak mengetahuinya.”[10]

Adapun ketinggian ilmunya dinyatakan oleh beberapa ulama, di antaranya:
Anaknya, Abdurrahman bin Al-Qasim, berkata, “Ia adalah manusia paling utama di jamannya.” Abdurrahman bin Abiz-Zinad berkata, “Aku tidak melihat seorang yang lebih tahu tentang As Sunnah daripada Al-Qasim bin Muhammad, dan seseorang tidak dianggap lelaki hingga ia mengetahui As Sunnah, tak seorang pun yang lebih jenius akalnya darinya.” Khalid bin Nazar (menceritakan, red) dari Ibnu ‘Uyainah, katanya: “Orang yang paling mengetahui hadits ‘Aisyah ada tiga: Al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan ‘Amrah binti ‘Abdirrahman.”[11]

Ia pun memiliki banyak hikmah yang ia ucapkan. Al-Imam Malik berkata, “Al-Qasim didatangi seorang penguasa Madinah yang akan menanyakan sesuatu, lalu Al-Qasim berkata, ‘Berkata dengan ilmu termasuk memuliakan diri sendiri’.”[12] Al-Qasim juga berkata, “Allah menjadikan (bagi) kejujuran, (dengan) kebaikan yang akan datang sebagai ganti dari-Nya”.

Pujian Para Ulama kepada Beliau

Abdurrahman bin Al-Qasim (anaknya sendiri) pernah mengatakan: “Beliau adalah manusia paling utama di zamannya.” Yahya bin Sa’id berkata: “Kami tidak melihat seorang pun di Madinah yang lebih kami utamakan daripada Al-Qasim.”

Abu Az-Zinad berkata: “Aku tidak melihat seorang yang lebih tahu tentang As-Sunnah daripada Al-Qasim bin Muhammad, dan aku juga melihat tidak ada seorang pun yang lebih jenius daripada dia.”

Imam Daril Hijrah Malik bin Anas mengatakan: “Al-Qasim adalah salah seorang di antara Fuqaha’ umat ini.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Orang yang paling mengetahui hadits (riwayat dari) ‘Aisyah ada tiga: Al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan ‘Amrah bintu ‘Abdirrahman.”

Ibnu Hibban mengatakan: “Beliau adalah termasuk tokoh tabi’in dan orang yang paling utama di zamannya dari sisi keilmuan, adab, dan fiqh.”

Wafat Beliau

Al-Qasim, seorang tokoh besar tabi’in yang buta di akhir kehidupannya ini wafat setelah meninggalnya ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz. Para ulama berbeda pendapat dalam menyebutkan tahun wafat dan umur beliau ketika itu. Ada yang mengatakan beliau wafat tahun 101 H, atau 102 H, ada juga yang mengatakan tahun 105 H, atau tahun 107 H. Beliau wafat dalam usia 70 tahun pada masa kekhalifahan Yazid bin ‘Abdil Malik bin Marwan sewaktu menunaikan ibadah ‘umrah bersama Hisyam bin ‘Abdil Malik di perbatasan antara kota Madinah dan Makkah.

Sebelum meninggal, Al-Qasim berwasiat kepada salah seorang anaknya, “Ratakanlah kuburku dan taburilah dengan tanah serta janganlah kamu menyebut-nyebut keadaanku demikian dan demikian.” [13]

Referensi

  • Siyar A’lami an-Nubala’, Imam ad-Dzahabi, Darul Fikr, cet ke-1, 1417 H., Beirut.
  • Al-A’lam, az-Zarkali, Mauqi’ Ya’sub.
  • Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, Mauqi’ Ya’sub.
  • Taddzibul Kamal, Ibnu Hajar al-Asqalany, Mauqi’ Ya’sub.
  • Tadzibu at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Asqalani, Mauqi’ Ya’sub.


[1] Taddzibul Kamal, Ibnu Hajar al-Asqalany, VIII/301, Mauqi’ Ya’sub.

[2] Siyar A’lami an-Nubala’, Imam ad-Dzahabi, V/534, Darul Fikr, cet ke-1, 1417 H., Beirut.

[3] Al-A’lam, az-Zarkali, V/181, Mauqi’ Ya’sub.

[4] Siyar A’lami an-Nubala’, Imam ad-Dzahabi, V/534.

[5] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, IX/278, Mauqi’ Ya’sub.

[6] Siyar A’lami an-Nubala’, Imam ad-Dzahabi, V/534.

[7] Tadzibu at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Asqalani, VIII/301, Mauqi’ Ya’sub.

[8] Siyar A’lami an-Nubala’, Imam ad-Dzahabi, V/535, Darul Fikr, cet ke-1, 1417 H., Beirut.

[9] Siyar A’lami an-Nubala’, Imam ad-Dzahabi, V/535.

[10] Ibid 536.

[11] Ibid

[12] Ibid 537.

[13] Ibid 539

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: