TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

Penetapan Shifat ‘Uluw Dan Istiwa’ Allah Ta’ala (Bag. 3, Selesai)

Posted by Fayyadh Albandy on 13 July 2010

Setelah kita memahami tentang Istiwa’ dan dalil-dalilnya pada bagian ke-1 dan ke-2, maka pada bagian yang ke-3 ini kita akan mengetahui beberapa pikiran yang menyimpang dari keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah tentang masalah ini.

IV. Syubhat-syubhat Kelompok Menyimpang Dan Bantahannya

Sebenarnya, jika melihat penjelasan para ulama’ yang disertai dengan dalil-dalil naqli dan aqli yang kuat tentang masalah Istiwa’ ini seharusnya kita sudah lebih yakin lagi tentang kebenarannya. Akan tetapi ternyata masih banyak sekali syubhat-syubhat atau pemikiran dari berbagai kelompok yang berusaha mengingkari atau bahkan menentang permasalahan ini. Maka disini akan disebutkan beberapa contoh syubhat pemikiran mereka, serta bantahan terhdapnya.

Dakwaan ahli ta’thil (atheis) tentang arti Istiwa’. Mereka mengartikan Istiwa’ dengan artian Istiila’ ( الاستيلاء ), yaitu ‘berkuasa’. Pendapat ini juga banyak dilontarkan oleh kebanyakan Jahmiyah dan Mu’tazilah, serta kaum muta’akhirin kelompok Asy’ariyah dan Khowarij. Salah satu dalil yang mereka gunakan adalah perkataan Ibun Abbas t, ketika menafsirkan ayat:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Ibnu Abbas berkata, “artinya: berkuasa atas seluruh makhluk-Nya, dan tidak ada satu tempat pun yang kosong dari-Nya.”

Bantahan:

1.Takwil seperti ini sama dengan tahrif yang menyelisihi tafsir salaf yang telah disepakati.
2. Belum ada bukti dari salah satu ahli bahasa arab bahwa makna Istiwa’ adalah Istila’. Bahkan pengertian seperti ini diingkari para ahli bahasa arab.
3. Menyelisihi dhahir lafadznya. Karena fi’il istiwa’ jika muta’addy dengan ( على ), maka tidak ada artian lain kecuali ‘tinggi, naik, dan menetap’. Dan fi’il istiwa’ dalam bahasa arab terletak pada empat segi, yaitu:

  • Yang mujarrad (tidak bersambung dengan huruf apapun), maka diartikan : ‘sempurna, atau lengkap’. Contoh dalam Al-Qur’an:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya” (QS. Al-Qhasas: 14)

  • Yang terikat dengan huruf ( إلى ), maka artinya adalah : إرتفع و علا (naik dan tinggi) sebagaimana yang telah disepakati salaf. Sebagian ahlul ilmi mengartikan dengan قصد (menuju). Akan tetapi makna yang pertama (naik dan tinggi) lebih utama. Contoh dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap” (QS. Fushilat: 11)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” (QS. Al-Baqarah: 29)

  • Yang terikat dengan huruh ( على ), maka tidak ada artian lain kecuali :’naik, tinggi, menetap’. Contoh firman Allah I,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5)

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)

فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ

“dan tegak lurus di atas pokoknya” (QS. Al-Fath: 29)

وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ

“dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi” (QS. Hud: 44)

  • Yang terhubung dengan waw ma’iyah ( و ), maka artinya adalah ‘sama’. Sebagaimana perkataan, استوى الماء و الخشبة (air dan kayu adalah sama).

4. Ditinjau dari segi dalil yang mereka gunakan di atas, maka itu adalah atsar yang di dustakan, periwayat-periwayatnya majhul (tidak diketahui) dan lemah.

5. Kaum atheis ini mempunyai dua cara dalam kelompok mereka, yaitu dengan tahrif (menyimpangkan makna) atau tafwidh (melimpahkan makna) untuk melancarkan tujuan mereka dalam menta’thil (peniadaan) makna dari sifat istiwa’. Sedangkan madzhab Ahlus sunnah adalah tafwidhul kaifiyyah (melimpahkan pada Allah kaifiyyah-Nya) bukan maknanya.

Tuduhan kelompok-kelompok yang menafikan sifat-sifat Allah I. Di antaranya kelompok Jahmiyah dan para filosof yang mengingkari kehidupan Rabb, Ilmu, Kemampuan, Pendengaran, Penglihatan, Perkataan, Istiwa’-Nya di atas ‘Arsy, dan lain-lainnya yang dikhabarkan oleh Rasul r tentang-Nya.[1] Hujjah mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah I adalah seperti dikatakan Imam as-Syahrastani[2] ketika membicarakan tentang Jahm bin Shafwan, “Di antara perkataannya, tidak boleh mensifati Allah I dengan sifat yang disifatkan pada makhluk-Nya, karena itu berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.

Bantahan:

Syaikh al-Utsaimin berkata,[3] tentang perbedaan yang sangat besar antara Pencipta dan makhluk dalam hal sifat-sifat dan perbuatan-Nya: “Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa saya memiliki tangan seperti tangan unta, saya memiliki tangan seperti semut kecil, atau saya memiliki tangan seperti tangan kucing. Di hadapan kita sekarang ada manusia, unta, semut kecil, dan kucing. Masing-masing memiliki tangan yang berbeda dari yang lainnya, padahal semuanya memiliki kesamaan nama (yaitu tangan). Jika boleh adanya perbedaan di antara nama-nama itu pada makhluk, maka terlebih lagi antara Khaliq dan makhluk. Bahkan, kita katakan: perbedaan antara Khaliq dan makhluk bukan hanya boleh tapi wajib.”

Kelompok yang menetapkan kaifiyyah Allah I dan sifat-Nya yang mulia, serta menyerupakan (tasybih) terhadap makhluk-makluk. Di antaranya adalah:

  • Al-Hasyimiyyah, yaitu pengikut Hisyam bin al-Hakam ar-Rofidhi[4] yang mengatakan, “Allah I menyentuh ‘Arsy, dan bahwa ‘Arsy itu sudah menghimpun Allah I.” dan perkatan sebagian pengikutnya, “Sesunggunya Allah I memenuhi ‘Arsy, dan Dia menyentuhnya.”[5]
  • Al-Jawaribiyah, yaitu pengikut Dawud Al-Jawaribiy yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah I menyentuh ‘Arsy dan rata dengannya.”[6]
  • Al-Karamiyyah, yaitu pengikut Ibnu Karam[7] yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah I menyentuh ‘Arsy pada permukaan tertinggi.” Dan perkataan, “Sesungguhnya perbuatan dan perkataan Allah I, serta kehendak-Nya atas suatu kejadian, sama dengan perbuatan, perkataan, dan kehendak makhluk-Nya.[8] Ada juga perkataan mereka bahwa Allah I beristiwa’ di sebagian ‘Arsy, dan ada yang mengatakan bahwa ‘Arsy terpenuhi dengan Allah I.[9]

Bantahan untuk kelompok ini sudah jelas dengan penjelasan tentang kaifiyyah pada bab III di atas.

Dan masih banyak lagi lontaran-lontaran batil yang datang dari berbagai kelompok menyimpang, yang pada dasarnya tetap sama yaitu menyelisihi kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami Allah I dan sifat-Nya.

V. Kedudukan orang yang tidak mengakui Istiwa’ Allah I di atas ‘Arsy.

Ada beberapa perkataan ulama’ tentang orang-orang maupun kelompok yang tidak mengakui dan mepercayai sifat Istiwa’ Allah I, atau Ketinggian-Nya. Di antaranya yaitu:

–       Perkataan Abu Hanifah. Riwayat dari Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshori dalam kitabnya Al-Faruq, dengan sanad sampai Abi Muthi’ Al-Balkhi: bahwasanya Abu Hanifah ditannya tentang orang yang mengatakan, “Aku tidak tahu Rabb-ku di atas langit atau di bumi.” Maka Abu Hanifah menjawab, “Dia telah kafir” lalu menyebutkan firman Allah surat Thoha ayat 5.[10]

–       Imam ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimiy berkata, “Di dalam hadits Rasulullah r ini (hadits ketika haji wada’ di Arafah di atas) merupakan dalil bahwa seseorang yang tidak mengetahui bahwa Allah I di atas langit, bukan di bumi, maka dia bukan orang mukmin.[11]

–       Imamul Aimmah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Barang siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah I beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit ke tujuh dan terpisah dari makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Jika dia bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka dipukul tengkuknya (dibunuh) kemudian dibuang ke tempat sampah agar bau busuknya tidak membahayakan ahli kiblat dan ahli dzimmah.”[12]

Adapun kesimpulan hukum orang seperti ini, maka perlu dirinci bagaimana bentuk pengingkarannya, apakah dengan tahrif, ta’thil, tamtsil, tasybih, takyif, dan semacamnya. Maka hukum orang tersebut berkaitan erat dengan hal-hal tadi.

VI. Kesimpulan dan Penutup

Dari penjelasan di atas kiranya sudah cukup jelas bagi orang yang mau mempergunakan akalnya dengan benar dan tidak menuruti hawa nafsunya bahwa Allah I mempunyai Sifat-sifat yang mulia, Dia adalah Dzat Yang Maha Tinggi, Yang Berlepas dari Makhluk-Nya. Dia-lah Allah I yang berisitiwa’ di atas ‘Arsy-Nya yang agung.

Sebagai orang yang mengaku Mukmin dan ber-aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menurut ajaran Rasulullah r dan para sahabatnya y, sudah seharusnya mengimani segala khabar yang diberitakan oleh Rasulullah r dengan sebenar-benar iman. Wallahu a’lam bis showab…

VII. Daftar Pustaka

ü  Al-Intishor Syarh Aqidah Aimmatil Amsor/Qurrotul ‘Ainaini bi Syarhi ar-Roziyaini, Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi. Syarh: Muhammad bin Musa alu Nashr.

ü  Syarh Aqidah At-Thohawiyah, Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi

ü  Ar-Raddu ‘Ala al-Jahmiyah, Utsman bin Sa’id ad-Darimy.

ü  Syarh Aqidah al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

ü  Lisanul Arob, Ibnu Mandzur

ü  Mukhtasor Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Adzim, Muhammad Nasirudin Albany.

ü  Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah, Abu Hasan Al-‘Asy’ary.

ü  Fathul Bari syarh Shohih Al-Bukhari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

ü  Tafsir Ruhul Ma’ani, Imam Al-Alusiy.

ü  Mukhtashar as-Shawa’iq al-Mursalah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

ü  Al-Milal wa an-Nihal, Muhammad bin Abdul Karim as-Syahrasytani.

ü  Naqdhu at-Ta’sis, Ibnu Taimiyyah.

ü  At-Tabshir fi ad-Diin, Dhahir bin Muhammad al-Isfiroyaniy.

ü  Al-Qur’an Digital Terjemahan.


[1] Mukhtashar as-Shawa’iq al-Mursalah, Ibnu Qayyim (175)

[2] Al-Milal wa an-Nihal (1/99)

[3] Syarh aqidah al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (1/91)

[4] Wafat tahun. 190 H.

[5] Sebagaimana yang diterakan Imam Dzahabi dalam Siyar A’laamu an-Nubala’ (18/283-284)

[6] Lihat Naqdhu at-Ta’sis, Syaikhul Islam (1/400-401)

[7] Wafat tahun. 255 H.

[8] Lihat at-Tabshir fi ad-Diin, hal. 112.

[9] Al-Intishor, hal. 191.

[10] Syarh Aqidah Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz, hal. 386-387.

[11] Al-Intishor, hal. 184. Lihat juga ar-Raddu ala al-Jahmiyyah, hal. 17.

[12] Dikeluarkan oleh Harowy (1245). Lihat Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghofar, Imam Ad-Dzahabi hal. 207(MS). Ibnu Taimiyah juga menyebutkan dalam Ad-Dar’Uluw (6/264), Ibnu Qoyyim dalam As-Showaiq (4/1303).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: