TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

Penetapan Shifat ‘Uluw Dan Istiwa’ Allah Ta’ala (Bag. 2)

Posted by Fayyadh Albandy on 13 July 2010

Pada bagian pertama dahulu telah kami tuliskan definisi, serta dalil-dalil tentang istiwa’. Pada bagian yang ke dua ini kami paparkan dalil-dalil dari ijma’ dan penjelasan lanjutan dari tema ini.

Dalil-dalil dari Ijma’ (kesepakatan ulama)

Imam al-Auza’i berkata, “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Allah berada di atas ‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.”[1]

Imam Abdullah Ibnu Mubarak berkata, “Kami mengetahui Rabb kami, Dia bersemayam di atas ‘arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).”[2]

Imamul Aimmah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata,

من لم يقر بأن الله على عرشه استوى فوق سبع سمواته بائن من خلقه فهو كافر يستتاب فإن تاب وإلا ضربت عنقه وألقي على مزبلة لئلا يتأذى بريحته أهل القبلة وأهل الذمة

“Barang siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah I beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit ke tujuh dan terpisah dari makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Jika dia bertaubat maka diterima taubatnya. Jika tidak bertaubat maka dipukul tengkuknya (dibunuh) kemudian dibuang ke tempat sampah agar bau busuknya tidak membahayakan ahli kiblat dan ahli dzimmah.”[3]

Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah menceritakan aqidahnya: “Dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya sebagaimana firman-Nya: ‘Ar-Rahman tinggi di atas arsy’”.[4]

Beliau juga memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan Allah di atas ‘Arsy. Di antara perkataan beliau:

“Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas ‘Arsy dan ‘Arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah ‘Arsy”.[5]

“Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.”[6]

Sebenarnya masih sangat banyak lagi dalil-dalil dalam masalah ini, semua ini telah dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka. Bahkan di antara mereka ada yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri seperi Imam Dzahabi dalam bukunya al-‘Uluw lil Aliyyil Azhim.

Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan –setelah menyebutkan 18 segi dalil–, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya dengan jawaban yang benar.”[7]

Maka, seharusnya orang yang mempunyai akal yang sehat dan tidak mengikuti hawa nafsunya, akan mengakui hal ini. Terlebih setelah jelas dengan berbagai dalil-dalil shahih.

III. Allah SWT berada di atas ‘Arsy berlepas dari makhluk-Nya tanpa kaifiyyah.

Allah I baa’in (terlepas) dari makhluk-Nya dengan artian bahwa, Allah I terpisah dari makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang terdapat pada Dzat-Nya dan sebaliknya.

Lafadz baa’in min kholqihi belum dikenal pada masa sahabat. Adapun ulama’ salaf mereka meletakkan lafadz ini untuk membantah paham al-khaluliyah. Paham ini berkeyakinan bahwa ada masanya dimana Dzat Allah I menyatu dengan manusia.

Juga paham Al-Mu’atthilah yang menetapkan bahwa Allah I beristiwa’ di atas ‘Asry. Akan tetapi mereka mengartiakan istiwa’ disini dengan istila’( استيلاء ) . Atau mereka meyakini yang tahu makna istiwa’ hanyalah Allah, lalu merka melimpahkan sepenuhnya pada Allah I.

Oleh karenanya ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan lafadz ini sebagai kaidah dalam masalah Istiwa’. Sangat banyak perkataan para ulama yang menegaskan masalah ini sebagaimana yang tercantum di atas. Dan perkataan lain mereka di antaranya:

Imam Ishaq bin Rohawaih[8] ketika ditanya tentang firman Allah I surat Al-Mujadilah ayat 7, “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” Beliau berkata, “Dimanapun engkau berada, maka Allah I lebih dekat kepadamu dari pada urat lehermu, dia berlepas dari makhluk-Nya.” Kemudian beliau menyebutkan perkataan Imam Ibnul Mubarok[9], “Dia berada di atas ‘Arsy-Nya dan berlepas dari makhluk-Nya”.[10]

Suatu ketika Imam Ahmad ditanya, “Apakah Allah I berada di atas langit ke tujuh di atas ‘Arsy-Nya, berlepas dari makhluk-Nya. Lalu Kekuasaan dan Ilmu-Nya di setiap tempat?” Imam Ahmad berkata, “Ya, Dia berada di atas ‘Arsy, dan tidak ada sesuatupun yang terlepas dari ilmu-Nya”.[11]

Dan beberapa keterangan lainnya dari ulama’-ulama’ Ahlus sunnah wal Jama’ah berkenaan dengan ini.

Sifat Tinggi dan Istiwa’ Allah I di atas ‘Arsy-Nya wajib kita imani. Sedangkan kaifiyyahnya (bagaimananya) tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Karena hanya Allah sendirilah yang mengetahuinya. Manusia tidak dapat mengetahui hakikat dari Dzat Allah, maka juga tidak dapat mengetahui kaifiyyah sifat Allah I.

Banyak sekali atsar yang melarang kita bertanya tentang kaifiyyah Allah I. di antaranya kisah Imam Malik ketika ditanya oleh seseorang tentang kaifiyyah (bagaimana) Allah I beristiwa’ di atas ‘Arsy. Maka seketika Imam Malik marah, kepalanya tertunduk, wajahnya memerah, dan keluar keringat, lalu berkata perkataan yang sudah tak asing lagi,

” اْلاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٌ, وَ اْلكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٌ, وَ اْلاِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ, وَ السُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ “

“Istiwa’ itu tidak majhul (diketahui), dan kaif (bagaimananya) tidak ma’qul (tidak dapat dicerna akal), sedangkan iman kepadanya (istiwa’) adalah wajib, dan bertanya tentangnya (kaifiyyah) adalah bid’ah.”[12]

Maksud dari Al-Istiwa’ ghairu majhul, yaitu ghairu majhul makna fil lughoh (arti bahasanya sudah tidak asing lagi). Dengan artian bahwa lafadz Istiwa’ tidak asing lagi artinya adalah: tinggi, naik, dan menetap.[13]

Maksud kaifiyyah ghoiru ma’qul, yaitu bagaimana bentuk, cara, dan gambaran Allah beristiwa’ tidak dapat diketahui akal manusia. Sedangkan Allah tidak memberikan khabar tentang hal itu, maka kewajiban kita adalah diam dan tidak bertanya tentang kaifiyyah istiwa’ Allah I. Kaifiyyah tentang sifat Allah I tidak diketahui oleh akal karena tiga hal, yaitu:

  1. Allah I mengkhabarkan tentang Istiwa’, tapi tidak mengkhabarkan tentang kaifiyyahnya.
  2. Jika kita tidak mengetahui kaifiyyah Dzat Allah I, maka kita juga tidak akan tahu kaifiyyah tentang sifat-Nya.
  3. Kita tidak dapat mengetahui kaifiyyah sesuatu kecuali dengan tiga hal, yaitu: menyaksikan secara langsung sesuatu tersebut, menyaksikan yang semisal dengannya, atau melalui khabar yang benar akan hal tersebut.[14]

Maksud as-su’alu ‘anhu bid’ah, yaitu bertanya tentang kaifiyyah istiwa’ Allah I adalah suatu bid’ah karena tiga hal, yaitu:

  1. Bahwasanya tidak ada contoh dari sahabat y bahwa merka bertanya tentang hal itu. Padahal mereka adalah orang-orang yang gigih dalam menuntut ilmu tentang Rabb mereka. Padahal jika mereka mau bertannya, di sisi mereka ada Rasulullah r.
  2. Penyebutan bid’ah sesuai dengan orang-orang yang terlalu dalam menceburkan diri dalam menggali tentang Allah I dan sifat-Nya. Mereka juga disebut ahlul bid’ah.
  3. Bahwasannya tidak ada jalan lagi untuk mengetahui dan menjawab tentang kaifiyyah Allah dan sifat-Nya.[15]

Bersambung ke bag. 3


[1] Shahih. Diriwayatkan Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat 408, adz-Dzahabi dalam al-‘Uluw hal. 102 dan dishahihkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan al-Albani.

[2] Shahih. Dikeluarkan ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf 28 dan ad-Darimi dalam ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 47

[3] Dikeluarkan oleh Harowy (1245). Lihat Al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghofar, Imam Ad-Dzahabi hal. 207(MS). Ibnu Taimiyah juga menyebutkan dalam Ad-Dar’Uluw (6/264), Ibnu Qoyyim dalam As-Showaiq (4/1303).

[4] Al-Ibanah am Ushul ad-Diyanah, Abu Hasan Al-‘Asyary, hal, 105(MS)

[5] Ibid

[6] Ibid, 108.

[7] Syarh Aqidah At-Thohawiyah, Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, juz 2, hal. 386.

[8] Guru dari Imam Bukhari, wafat tahun 238 H.

[9] Wafat tahun 181 H.

[10] Dikeluarkan oleh Al-Harowiy no. 1208. Disebutkan juga oleh Ibnu Battah dalam Al-Ibanah no. 118, Syaikhul Islam dalam Naqdhu at-Ta’sis (I/438), Adzahabi dalam Al-‘Uluw (446).

[11] Dikeluarkan oleh Ibnu Batthah (115), Imam Al-Lilka’I juga menyebutkannya (674), dan Ibnu Qudamah dalam Itsbat Sifatil ‘Uluw, no. 96.

[12] Dikeluarkan oleh Ad-Darimi dalam Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah (104). Al-Lilka’I (664). Baihaqi dalam Al-Asma’ wa As-Sifat (II/305-306). As-Shobuni (45-46). Abu Na’im dalam Al-Haliyyah (VI/326-325). Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (V/149).

[13] Al-Intishor, hal. 186.

[14] Ibid.

[15] Ibid, hal. 187.

2 Responses to “Penetapan Shifat ‘Uluw Dan Istiwa’ Allah Ta’ala (Bag. 2)”

  1. […] 13 Juli 2010 Setelah kita memahami tentang Istiwa’ dan dalil-dalilnya pada bagian ke-1 dan ke-2, maka pada bagian yang ke-3 ini kita akan mengetahui beberapa pikiran yang menyimpang dari […]

  2. […] Dan masih banyak lagi hadit-hadits Rasulullah r yang menerangkan dan menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa Allah I mempunyai sifat beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya yang tidak mungkin kami tuliskan seluruhnya. Bersambung ke bag. 2 […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: