TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

BERAMAL KARENA TUJUAN DUNIA TERMASUK SYIRIK

Posted by Fayyadh Albandy on 20 June 2010

  1. I. Hakikat Riya’ dan Syirkul Irodah lid Dunya

Pada dasarnya, pembahasan pada bab ini tidak jauh berbeda dengan bab sebelumnya, yaitu bab riya’. Antara keduanya memiliki kesamaan dan perbedaan, dalam ruang lingkup kekhususannya dan keumumannya. Disini akan dijelaskan tentang hakekat keduanya.

Riya’ diambil dari kata ru’yah, dan yang dimaksud adalah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia agar mereka memuji pelakunya. Perbedaan antara riya’ dan sum’ah adalah adanya amal yang diperlihatkan seperti shalat,dll. Sedangkan sum’ah karena adanya amal yang diperdengarkan seperti tilawah, memberi nasihat, dzikir, atau menceritakan amalannya juga termasuk sum’ah.

Sedangan syirkul irodah, pebedaannya dengan riya’ adalah bahwa ini merupakan bentuk amal shalih yang dimaksudkan oleh pelakunya untuk mendapat keuntungan duniawi. Seperti contoh orang yang berjihad demi mendapatkan harta semata, ataupun untuk ghanimah, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits `Celakalah hamba dinar`.

  1. II. Hukum Syirkul Irodah lid Dunya

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bermaksud menerangkan dengan bab ini, bahwa amal untuk tujuan dunia adalah syirik besar yang menafikan tauhid yang wajib, dan dapat menhapuskan amal. Syrik ini lebih besar daripada riya’, karena orang yang menghendaki dunia tekadang tujuannya mendominasi berbagai amalannya, sedangkan riya’ mengenai suatu amalan, dan tidak mengenai amalan lainnya dan iapun tidak berlarut-larut dalam riya’. Maka seorang mukmin harus berhati-hati dari kedua hal tersebut. Allah SWT befirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan”

Qatadah berkata: “Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan, harapan dan niatnya, maka Allah akan membalas amal kebaikannya di dunia kemudian dia dikumpulkan di akhirat dengan tanpa kebaikan yang dibalas. Adapun orang mukmin, maka amal kebaikannya dibalas di dunia dan di akhirat.” Terdapat pula hadits panjang dari Rasulullah yang diceritakan oleh Abu Hurairah tentang tiga golongan yang akan menjadi makhluq pertama yang dijadikan bahan bakar api neraka pada hari kiamat, yang pertama yaitu ahli pembaca Al-Qur’an yang dengannya dia ingin dikatakan Ahli Al-Qur’an. Yang ke dua yaitu orang yang melimpah hartanya, dia berinfak supaya dikatakan oleh orang sebagai orang yang dermawan. Yang ketiga yaitu orang yang berperang di jalan Allah dengan niat supaya dipuji orang sebagai orang yang pemberani.

III. Kriteria Amal Perbuatan Manusia

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menerangkan tentang kriteria amal pebuatan manusia pada zaman ini, yang mereka tidak mengetahui hakikat dari amalan mereka. Diantaranya yaitu:

Pertama: Amal shalih yang dilakukan oleh banyak orang untuk mencari ridha Allah seperti sedekah, shalat, menyambung tali persaudaraan, berbuat baik kepada manusia, meninggalkan kezaliman, dan sebagainya dari amal-amal yang dilakukan manusia dan ditinggalkannya karena ikhlas kepada Allah. Akan tetapi orang yang melakukan itu tidak menginginkan pahalanya di akhirat, melainkan ia hanya ingin agar Allah menjaga hartanya dan mengembangkannya, menjaga istri dan anak-anaknya, dan lain sebagainya.Tidak terpikir olehnya untuk mencari jannah dan menghindari neraka. Orang semacam ini diberi ganjaran amalnya di dunia, sedangkan di akhirat tidak ada bagian untuknya. Macam ini disebutkan oleh Ibnu Abbas.

Kedua: Ini lebih besar dari yang pertama dan lebih dikhawatirkan, yaitu orang berbuat amal shalih dan niatnya untuk riya’ kepada manusia tidak untuk mencari pahala akhirat.

Ketiga: Seorang berbuat amal shalih dengan tujuan harta, seperti berhaji karena ada harta yang akan diambilnya bukan karena Allah. Berhijrah karena dunia yang akan diperolehnya, atau perempuan yang akan dinikahinya, atau berjihad untuk mendapatkan ghanimah, dll.

Keempat: Seseorang mengerjakan ketaatan kepada Allah dan murni hanya untuk Allah saja, akan tetapi ia melakukan perbuatan kufur yang membuatnya keluar dari Islam, atau melakukan perbuatan syirik yang mengeluarkan dari islam, maka amalan mereka tidak akan diterima.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menambahkan lagi, jika seseorang melakukan shalat lima waktu, zakat, puasa, dan haji untuk mencari ridho Allah dan mencari pahala akhirat, kemudian setelah itu ia melakukan beberapa amal untuk tujuan dunia, seperti melakukan ibadah haji wajibnya karena Allah, kemudian ia berhaji di tahun berikutnya karena untuk mencari dunia seperti yang sering terjadi, maka baginya apa yang lebih dominan ia lakukan.

Sabda Rasulullah SAW:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( تَعِسُ عبدُ الدِينَارِ، تَعسُ عبدُ الدِرهَمِ، تعسُ عبدُ الخَمِيصَةِ، تعسُ عبدُ الخَميلَةِ، إن أُعْطِيَ رَضِيَ، وإِن لَمْ يُعطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وإذا شِيْكَ فَلاَ انْتَقَشَ, طُوبَى لعبدٍ آخذ بعِنانِ فَرَسِه في سبيل الله، أَشْعَثَ رَأسَهُ، مُغْبَرَةٍ قَدَمَاهُ،إن كان في الحِرَاسةِ; كان في الحراسة، وإن كان في السَاقَةِ; كان في الساقة، إن اسْتَأذَنَ; لم يُؤْذَن له، وإن شَفَعَ; لم يُشَفَّعْ

“Dari Abu Hurairah RA, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Celakalah hamba dinar, hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah. Celakalah ia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya. Berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya (berjihad di jalan Allah) dengan kusut rambutnya dan berlumur debu kedua kakinya. Bila dia berada di pos penjagaan, dia kan tetap setia berda di pos penjagaan itu. Bila ditugaskan di garis belakang, dia akan setia berada di garis belakang itu. Jika dia meminta permisi (untuk menemui raja) atau penguasa), tidak diperkenankan. Jika bertindak sebagai perantara, tidak diterima perantaraanya.`”

Ini adalah keadaan orang yang bila tertimpa keburukan ia tidak dapat lolos darinya dan tidak beruntung, karena ia telah celaka dan tersungkur. Maka ia tidak dapat meraih apa yang ia harapkan dan tidak dapat meloloskan diri dari sesuatu yang dibenci, dan ini adalah keadaan orang yang menjadi hamba harta. Berkenaan dengan kebutuhan manusia, maka harta dapat digolongkan menjadi dua. Yaitu:

Pertama: Sesuatu yang dibutuhkan seorang hamba, seperti kebutuhan makanan, minuman, nikah, tempat tinggal, dan lain-lain. Maka hal ini diminta dari Allah dan dimohonkan harapan dari Allah dalam memperolehnya. Orang ini tidak akan diperbudak oleh hartanya.

Kedua: Sesuatu yang seorang hamba tidak membutuhkannya dalam hal ini, hendaknya tidak menggeantungkan diri kepadanya. Karena jika hatinya bergantung kepadanya, ia akan menjadi budak baginya, dengan bersandar kepada selain Allah SWT.

Maka, berbahagialah orang yang tidak menurutkan hawa nafsunya, orang yang tidak tergiur dengan kekuasaan atau jabatan. Karena ia hanya mengharap ridho Allah SWT, bahkan jika dia Ikhlas mengharap ridho Allah SWT, maka Allah pun akan memberikan hal-hal yang semula ia tinggalkan. Serta mendapatkan kesenangan dunia dan akhirat.

Diringkas dari Kitab Fathul Majid

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: