TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

SASARAN DAN TUJUAN ISLAM

Posted by Fayyadh Albandy on 19 June 2010

Oleh: Fayyadh Albandy

Islam merupakan satu-sautnya agama yang benar-benar menjunjung tinggi kesejahteraan manusia di dunia ini, secara khusus umat Islam sendiri dan umat beragama yang lain pada umumnya. Hal ini sudah ditegaskan oleh Syari’ (Pembuat Hukum) yang agung dan Rasul-Nya Muhammad SAW bahwa Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, yang memberi kesejahteraan bagi seluruh manusia yang bernaung di dalamnya. Secara historis pun sudah jelas terbukti tatkala Khilafah Islamiyah menguasai hampir sepertiga dunia, semua makhluq yang bernaung di dalam kekuasaan islam yang adil senantiasa merasakan kesejahteraan. Tidak hanya umat Islam, umat non Islam pun terjamin hak-haknya. Inilah hakikat Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Di dalam Islam terdapat hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Yang mana sasaran dan tujuan sebenarnya adalah untuk kesejahteraan dan kemaslahatan manusia, khususnya umat Islam sendiri. Berikut penjelasan secara ringkasnya.

Mewujudkan Kemaslahatan Hamba Dahulu dan Sekarang

Sesungguhnya, tujuan utama Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan, dan menghindarkan kerusakan dan bahaya dari seorang hamba baik dahulu, sekarang, dan yang akan datang. Sehingga akan tercapailah kebahagiaan mereka yang hakiki dimanapun berada. Imam al-‘Izz bin Abdussalam berkata, “Sesungguhnya seluruh syari’at yang ada merupakan kemaslahatan. baik dengan mengindarkan dari kerusakan, ataupun mendatangkan kebaikan”.[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata, “Sesungguhnya Syari’at Islam datang untuk mencapai kemaslahatan dan menyempurnakannya, serta menghilangkan kerusakan dan mengikisnya”.[2]

Imam Ibnu Qoyim Al-Jauziyah yang merupakan murid dari Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Syari’at terbangun didasari dan dipondasi dengan hukum yang merupakan kemaslahatan bagi hamba di dunia dan akhirat. Dan seluruh hukum itu merupakan suatu keadilan dan rahmat. Dan seluruh hukum itu merupakan hikmah”.[3] Imam As-Syatibi juga menegaskan dalam kitabnya Al-Muwafaqot: “Sesungguhnya Syari’at Islam diadakan adalah untuk kemaslahatan hamba”.[4]

Kenyataannya, apa yang telah disebutkan oleh para Imam di atas tentang tujuan, sasaran, dan sifat yang sebenarnya dari Islam merupakan suatu kebenaran. Sangat banyak dalil-dalil tentang hal itu, baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Salah satunya, dan yang cukup luas cakupannya adalah firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Ayat di atas sudah sangat jelas menunjukkan bahwa Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, karena Islam pada dasarnya menerapkan kemaslahatan bagi hamba, di dunia dan akhirat, serta menghindarkan dari kerusakan dan bahaya.

Macam-macam Maslahat

  1. Maslahat yang sifatnya pokok, dan harus ada. Dalam maslahat ini, peranan Islam ada dalam lima aspek kehidupan, yaitu[5]:
    1. Penjagaan terhadap Dien (agama). Contoh: Menjauhkan dari murtad dengan memerangi orang kafir.
    2. Penjagaan terhadap diri. Contoh: Syari’at Qishas.
    3. Penjagaan keturunan. Contoh: Menjauhkan dari zina.
    4. Penjagaan harta. Contoh: Adanya hukuman bagi pencuri.
    5. Penjagaan akal. Contoh: Pengharaman khamar.
    6. Maslahat yang sifatnya sebagai kebutuhan. Dalam maslahat ini ada suatu bentuk keluasan dan menghilangkan hal-hal yang sulit. Contoh: Keringanan bagi orang yang safar atau sakit untuk berbuka pada bulan Ramadhan.
    7. Maslahat yang sifatnya sebagai pemerindah. Hal ini mencakup masalah kemuliaan Akhlaq. Contoh: Perintah untuk berhias jika pergi ke masjid, dll.

Ukuran Maslahat dan Madharat

Sebagai timbangan mana yang merupakan maslahat (kebaikan) dan mana yang madharat (keburukan), tidak bisa ditentukan dengan akal pikiran manusia. Akan tetapi yang bisa menjadi timbangan keduanya adalah Islam. Jika yang dianggap islam itu baik, maka dapat dikategorikan sebagai maslahat. Sebaliknya, jika menurut ukuran Islam hal itu merupakan keburukan, maka harus dikategorikan sebagai madharat. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama Allah, sehingga semuanya dari Allah.

Sebagai manusia, kita sangat lemah dalam mengetahui mana diantara sesuatu itu yang merupakan maslahat atau madharat. Maka hal yang dapat mempermudah kita mengetahui hakikat maslahat dan madharat adalah  mengikuti apa-apa yang telah diturunkan Allah SWT dan di ajarkan oleh Rasulullah SAW. Allah berfirman:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad: 26)

Maslahat Dunia bergantung dengan Akhiratnya

Imam As-Syatibi berkata: “Maslahat adalah hal yang dimaksudkan dalam syari’at, dan Madharat adalah hal yang dihindarkan dalam syari’at. Dengan pertimbangan, kebaikan yang ada di dunia bermanfaat bagi kebahagiaan di akhirat. Bukan hawa nafsu yang menjadi pertimbangan akan maslahat atau madharat seperti kebiasaannya.”[6]

Pemahaman dari perkataan di atas adalah, bahwa segala syari’at yang diterapkan oleh Islam sejatinya merupakan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Karena, pada hakikatnya maslahat dunia bukan menjadi tendensi utama, akan tetapi tidak lebih sebagai sarana saja. Maka, apapun yang bertentangan dengan tujuan asli, yaitu kebahagiaan di akhirat, maka harus ditinggalkan. Dunia tidak boleh lebih diprioritaskan dari pada akhirat. Allah SWT berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى, وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 37-41)

Mengenai ayat di atas, Imam As-Syatibi berkata: “Sudah menjadi kesepakatan bahwa aslahat dan madharat di akhirat lebih diprioritaskan dari dunia dalam pertimbangannya. Jika suatu yang disebut maslahat tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka hal itu merupakan kebatilan.”[7]

Maka, memprioritaskan dunia dari akhirat adalah hal terlarang, akan tetapi menggunakan dunia sebagai sarana untuk mencapai akhirat adalah suatu kebutuhan.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi.” (QS. Al-Qashas: 77)

Dunia adalah ladang, dan hasilnya sebagai wasilah menuju akhirat. Maka seseorang tidak boleh terperosok kedalamnya. Sebaliknya, seseorang juga tidak pantas untuk lari dari dunia dengan tujuan yang tidak baik. Karena dunia ini diadakan sebagai ladang bagi manusia untuk senantiasa berbuat kebaikan, dan membekali diri dengan amal sholeh dan ketaqwaan. Tetapi, yang perlu di ingat adalah tujuan utama hanya akhirat. Allah menjadikan dunia hanyalah sebagai wasilah saja.

Keutamaan Akhirat Dibandingkan Dengan Dunia

Tidak diragukan lagi, bahwa akhirat mutlaq lebih utama dibandingan dengan dunia yang tidak ada apa-apanya. Hal ini diantaranya dapat dilihat dari dua segi, yaitu:

–      Segi kenikmatan. Sudah tidak diragukan lagi bahwa kenikmatan, kelezatan semu yang ada di dunia ini tidak sebanding dengan kenikmatan yang ada di akhirat. Karena kenikmatan di akhirat adalah kenikmatan asli, yang saat ini tidak bisa digambarkan dengan panca indera apapun. Di dalamnya ada nikmat yang paling besar, yaitu diperlihatkan Wajah Allah Yang Maha Mulia.

–      Segi waktu. Nikmat dunia cepat atau lambat akan berakhir, dan pasti berakhir dengan adanya Hari Kiamat. Berganti dengan akhirat yang nikmatnya tidak terbatas dengan waktu kapanpun. Allah SWT telah menjajikan nikmat yang kekal di akhirat.

Dari penjelasan singkat di atas, sudah selayaknya kita lebih yaqin lagi, bahwa tujuan Islam adalah sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Yang akan mendatangkan maslahat dan kebaikan, serta mengilangkan madharat dan kerusakan bagi hamba yang bernaung di dalamnya. Dan kemaslahatan yang sebenarnya adalah berada di akhirat, maka sudah mutlaq dan harus diprioritaskan akhirat dari pada dunia.


[1] Al-Qawa’id, al-‘Izz bin Abdussalam, I/9

[2] Minhaju as-Sunnah an-Nabawiyah, Ibnu Taimiyah, I/147, II/240, III/118

[3] I’lamul Muwaqi’in, Ibnu Qoyim, III/1

[4] Al-Muwafaqot, Imam As-Syatibi II/6

[5] Al-Muwafaqot, Imam As-Syatibi II/17

[6] Al-Muwafaqot, Imam As-Syatibi II/384

[7] Ibid, 387

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: