TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

RASULULLAH MEMBANGUN MASYARAKAT BARU

Posted by Fayyadh Albandy on 19 June 2010

Fayyadh Albandy

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam singgah di Bani An-Najar pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul-Awwal 1H. Tatkala onta yang beliau naiki berhenti dan menderum di hamparan tanah depan rumah Abu Ayyub, maka beliau bersabda, “Di sinilah tempat singgah insya Allah.” Maka, beliau pun menetap di rumahnya.

Membangun Masjid Nabawi

Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam adalah membangun masjid. Tepat di tempat menderumnya onta itulah beliau memerintahkan untuk dibangun masjid. Beliau membeli tanah tersebut dari dua anak yatim yang menjadi pemiliknya. Beliau terjun langsung dalam pembangunan mesjid itu, memindahkan bata dan bebatuan, seraya bersabda, “Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”

Keikut sertaan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam pembangunan masjid semakin memompa semangat para sahabat dalam bekerja, hingga salah seorang di antara mereka berkata, “Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bekerja, itu adalah tindakan orang yang tersesat.”

Sementara di tempat tersebut ada kuburan orang-orang musyrik, puing-puing reruntuhan bangunan, pohon kurma dan pohon yang lain. Maka beliau memerintahkan untuk menggali kuburan-kuburan itu, meratakan puing-puing bangunan, memotong pohon dan menetapkan arah kiblat yang saat itu masih menghadap ke arah Baitul Maqdis. Beliau juga membangun beberapa rumah di sisi masjid. Setelah semuanya beres, maka beliau pndah dari rumah Abu Ayyub ke rumah itu.

Masjid itu bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat semata, tapi juga merupakan sekolahan bagi orang-orang Muslim untuk menuntut ilmu, balai pertemuan, gedung parlemen, dan pusat pemerintahan.

Pada masa awal-awal hijrah itu juga disyariatkan adzan yang berawal dari kisah mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbah yang sudah cukup terkenal, sebagaimana yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah.

Mempersaudarakan di antara Sesama Orang-Orang Muslim

Di samping membangun masjid sebagai tempat untuk mempersatukan manusia, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam juga mengambil tindakan yang sangat monumental dalam sejarah, yaitu usaha mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Ibnul Qayyim menuturkan, “Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Mereka yang disaudarakan ada sembilan puluh orang, separoh dari Muhajirin, dan separoh dari Anshar.

Beliau mempersaudarakan mereka agar saling tolong menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meniggal dunia di samping kerabatnya. Waris-mewarisi ini berlaku hingga Perang Badr. Ketika turun ayat, “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat.” (QS. Al-Anfal: 75), maka hak waris-mewarisi itu menjadi gugur, tapi ikatan persaudaraan masih tetap berlaku.

Makna persaudaraan ini sebagaimana yang dikatakan Muhammad Al-Ghazaly, agar fanatisme Jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali Islam. Di samping itu, agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi, agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan yang merasa lebih rendah kecuali karena ketaqwaannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Orang-orang Anshar berkata kepada Nabi Salallahu Alaihi wa Sallam, “Bagilah kebun kurma milik kami untuk diberikan kepada saudara-saudara kami.” “Kami mendengar dan kami taat,” kata mereka. “Tidak perlu” jawab beliau, “Cukuplah kalian memberikan bahan makanan pokok saja, dan kami bisa bergabung dengan kalian dalam memanen buahnya.”

Ini menunjukkan seberapa jauh kemurahan hati Anshar terhadap saudara-saudara mereka dari Muhajirin. Mereka mau berkorban, lebih mementingkan kepentingan saudaranya, mencintai dan menyayangi. Sungguh besar kehormatan yang dirasakan kaum Muhajirin. Maka, mereka tidak menerima dari saudaranya Anshar kecuali sekedar makanan yang bisa meneggakkan tulang punggungnya.

Pertautan persaudaraan ini benar-benar merupakan tindakan yang sangat tepat dan bijaksana, karena bisa memecahkan sekian banyak problem yang sedang dihadapi orang-orang Muslim.

Butir-butir Perjanjian Islam

Dengan mempersaudarakan orang-orang Mukmin itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah mengikat suatu perjanjian yang sanggup menyingkirkan belenggu jahiliyah dan fanatisme kekabilahan, tanpa menyisakan kesempatan bagi tradisi-tradisi jahiliyah.[1] Yang pada intinya isi perjanjian tersebut adalah memperkuat ikatan persaudaraan yang telah dibangun serta melindungi dan saling tolong-menolong sesama orang mukmin. Dan juga kewajiban untuk selalu membela Allah ta’ala Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, dan kaum Muslimin.

Pengaruh Spiritual dalam Masyarakat

Dengan hikmah dan kepintarannya seperti ini, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah berhasil memancangkan sendi masyarakan yang baru. Tentu saja fenomena ini memberikan pengaruh spiritual yang sangat besar, yang bisa dirasakan setiap anggota masyarakat. Beliau sendiri yang mengajari berbagai hal pada para sahabat. Hal-hal tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

–          Mendidik

–          Membimbing

–          Mensucikan Jiwa Manusia

–          Menuntun Mereka Kepada Akhlak Yang Baik

–          Menanamkan Adab Kasih Sayang

–          Persaudaraan

–          Kemuliaan

–          Ibadah Dan Ketaatan

Hal-hal di atas beliau ajarkan melalui berbagai cara, dan banyak sekali riwayat yang menyebutkan tentang pembelajaran beliau pada para sahabatnya, salah satu contoh yaitu:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ سَلَّامٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ! أَفْشُوا اَلسَّلَام, وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ, وَأَطْعِمُوا اَلطَّعَامَ, وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ, تَدْخُلُوا اَلْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Dari Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah pada malam hari tatkala semua orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan damai.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimy)

Di samping itu semua, beliau juga menganjurkan agar merekqa menahan diri dan tidak suka memnta-minta, menekankan keutamaan sabar dan rasa puas. Beliau juga menyampaikan keutamaan dan pahala berbagi di sisi Allah ta’ala. Beliau selalu mendidik mereka dan dikaitkan dengan wahyu yang turun dari Allah yang kemudian disampaikan kepada para sahabat. Sehingga pengaruh yang ditimbulkan sangat berbekas dalam hati dan jiwa para sahabat.

Begitulah cara beliau mengangkat moral dan spirit mereka, membekali mereka dengan nilai-nilai yang tinggi, sehingga mereka tampil sebagai sosok ideal dan sempurna setelah para nabi, tercatat dalam sejarah manusia.

Terbangunlah sudah sebuah masyarakat baru di Madinah dari tangan mulia Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Suatu masyarakat yang mulia lagi mengagumkan yang dikenal sejarah. Beliau juga mampu mencari solusi dari berbagai problem yang muncul di tengah masyarakat ini, yang bisa dinikmati manusia, setelah mereka keletihan dalam kungkungan kegelapan.

Dengan gambaran spiritual yang mengagumkan seperti ini, segala aspek kehidupan sosial bisa tumbuh menjadi sempurna, siap menghadapi segala arus zaman sepanjang sejarah.

PERJANJIAN DENGAN PIHAK YAHUDI

Setelah Nabi Salallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah, dan berhasil memancangkan sendi-sendi masyarakat Islam yang baru, dengan menciptakan kesatuan akidah, politik dan sistem kehidupan di antara orang-orang Muslim, maka beliau merasa perlu mengatur hubungan dengan selain golongan Muslim.

Perhatian beliau saat itu terpusat untuk menciptakan keamanan, kebahagiaan dan kebaikan bagi semua manusia, mengatur kehidupan di daerah itu dalam satu kesepakatan. Untuk itu beliau menerapkan undang-undang yang luwes dan penuh tenggang rasa, yang tidak pernah terbayangkan dalam kehidupan yang selalu dibayangi fanatisme.

Tetangga yang paling dekat dengan orang-orang Muslim di Madinah adalah orang-orang Yahudi. Sekalipun memendam kebencian dan permusuhan terhadap orang-orang Muslim, namun mereka tidak berani menampakkannya. Beliau menawarkan perjanjian kepada mereka[2], yang pada intinya adalah:

–          Memberikan Kebebasan Menjalankan Agama

–          Memutar Kekayaan

–          Tidak Boleh Saling Menyerang Dan Memusuhi.

Dengan disahkannya perjanjian ini, maka Madinah dan sekitarnya seakan-akan merupakan satu negara yang makmur, ibukotanya Madinah yang di kepalai oleh Nabi Salallahu Alaihi wa Sallam. Pelaksanaan pemerintahan dan penguasaan mayoritas adalah orang-orang Muslim. Sehingga dengan begitu Madinah benar-benar menjadi ibukota bagi Islam.

PERJUANGAN YANG MENUNTUT PENGORBANAN NYAWA

Bujukan Quraisy untuk Memerangi Orang-orang Muslim dan Kontak dengan Abdullah bin Ubay

Begitu keras dan kejamnya tekanan dan penyiksaan yang dilancarkan orang-orang kafir Makkah terhadap orang-orang Muslim tatkala hijrah, yang sebenarnya sangat potensial untuk memancing pecahnya peperangan. Hanya saja saat itu orang-orang Muslim belum memungkinkan untuk menghadapi mereka. Kepergian orang Muslim ke Madinah semakin membuat murka orang Quraisy, sehingga mereka berinisiatif melakukan propaganda. Yaitu dengan menulis surat kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, yang saat itu dia merupakan orang Musyrik dan hampir-hampir diangkat sebagai pemimpin Anshar dan raja Madinah andaikan saja Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang Muslim tidak hijrah ke sana.

Isi surat tersebut pada intinya memerintahkan orang musyrik Madinah agar mengusir Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin yang hijrah. Atau jika tidak, kaum Quraisy Makkah akan memerangi mereka.

Dengan surat ini, Abdullah bin Ubay mulai terpengaruh untuk menuruti perintah rekan-rekannya. Sehingga dia menyusun makar untuk memerangi Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin. Akan tetapi makar Allah ta’ala lebih baik dari makar mereka, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam diberitahu oleh Allah tentang hal itu, lalu mendatangi Abdullah bin Ubay.

Dengan itu, Abdullah bin Ubay mengurungkan niat buruknya. Akan tetapi, dibalik itu, dia tetap menyimpan dendam dan masih menyusun makar-makar yang lain dengan rekan-rekannya kaum Quraisy.

Tekad untuk Melakukan Perlawanan

Kaum Muslimin dengan keadaan yang seperti ini tidak mau tinggal diam. Mereka juga bertekad untuk melawan jika penindasan dilakukan pada mereka, sebagaiamana kisah Sa’ad bin Mu’adz yang diancam akan dibunuh oleh Abu Jahal ketika thawaf di ka’bah, lalu dengan suara yang nyaring Sa’ad berkata, “Demi Allah, jika engkau menghalangiku saat ini, pasti aku akan menghalangimu dengan cara yang lebih keras lagi perjalananmu melewati penduduk Madinah.”[3]

Quraisy Meneror Muhajirin

Kemudian orang-orang Quraisy mengirim utusan kepada orang Muslim guna mengancam bahwa mereka tidak akan diam dan akan mendatangi serta memerangi orang-orang Muslim di Madinah, terutama Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Akan tetapi sekali lagi makar Allah lebih dari segala makar mereka. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengetahui hal itu memerintahkan para sahabat untuk menjaga rumah beliau, salah satunya yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash. Penjagaan tersebut berjalan cukup lama sampai turunlah sebuah ayat,

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Dan Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Maidah: 67)

Sebagaimana riwayat dari Aisyah, lalu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam melongokkan kepala dari lubang jendela, seraya bersabda, “Wahai semua orang, menyingkirlah dari tempatku ini, karena Allah ta’ala telah menjagaku.”

Izin untuk Berperang

Ketika kondisi bertambah rawan dan genting, karena adanya ancaman terhadap eksistensi orang-orang Muslim di Madinah, yang terutama bersumber dari pihak Quraisy, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat yang mengizinkan orang-orang Muslim untuk berperang, yang berarti tidak bersifat wajib.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”(QS. Al-Hajj: 39)

Ayat ini diturunkan di antara beberapa ayat yang memberi petunjuk kepada mereka, bahwa izin ini hanya dimaksudkan untuk mengenyahkan kebatilan dan menegakkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(QS. Al-Hajj: 41)

Hal ini juga dimaksudkan untuk menunjukkan kekuasaan terhadap jalur perdagangan kaum Quraisy, maka Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengambil dua langkah:

  1. Mengadakan perjanjian kerja sama atau tidak saling menyerang, dengan beberapa kabilah yang berdekatan dengan jalur perdagangan ini, atau yang menjadi penghalang antara jalur itu dan Madinah.
  2. Mengirim beberapa kelompok utusan secara terus-menerus dan bergiliran ke jalur perdangan itu.

Satuan-satuan Pasukan Sebelum Perang Badr

Dengan turunnya ayat izin untuk berperang itu, maka mulailah kaum muslimin menyusun kekuatan mereka terutama dalam bidang militer. Kegiatan militer yang mula-mula diterapkan adalah mengirim intelejen (mata-mata) ke berbagai tempat, di antaranya jalan-jalan yang ada di sekitar Madinah, jalur sekitar Makkah, dan tempat lainnya. Dan juga dengan mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur-jalur itu. Hal ini bertujuan mengendorkan mental orang-orang Musyrik Yatsrib dengan menampakkan kekuatan dan kekuasaan kaum Muslimin.

Inilah gambaran singkat tentang beberapa satuan pasukan Muslimin:

Nama Satuan (waktu)

Pasukan kaum Muslimin

Pasukan Musyrikin

Kejadian singkat

Sariyah Siful Bahr

(1 Ramadhan 1 H/623 M)

30 orang kaum Muhajirin dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Bendera pertama dari Rasul, dibawa oleh Martsad Kannaz bin Hishn Al-Ghanwy

300 orang di dalamnya terdapat Abu Jahal bin Hisyam.

Mereka tiba di Siful Bahr di bilangan Ish, sudah siap perang tapi dilerai oleh Majdy bin Amr Al-Juhanny

Sariyah Rabigh

(1 Syawwal 1 H)

60 orang kaum Muhajirin dipimpin oleh Ubaidah bin Al-Harits bin Abdul Muthalib. Bendera dibawa oleh Misthah bin Utsatsah bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf

200 orang dipimpin Abu Sufyan

Sudah saling memanah tapi tidak terjadi perang. Dua pasukan Quraisy yang berangkat bersama kaum Musyrik bergabung dengan kaum Muslim, yaitu Al-Miqdad bin Amr dan Utbah bin Gazwan, keduanya masuk Islam

Sariyah Al-Kharar

(Dzulqa’dah 1 H/ Mei 623 H)

20 orang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash. Bendera dibawa oleh Al-Miqdad bin Amr

Kafilah dagang Qurasy

Pesan Rasul agar Sa’ad jangan sampai melewati Al-Kharar. Setelah pasukan sampai di Al-kharar pada hari ke lima, kafilah dagang sudah lewat sehari sebelumnya

Perang Abwa’ atau Waddan

(Shafar 2 H/Agustus 623 M)

70 orang Muhajirin dipimpin langsung oleh Rasulullah, diwakili Sa’ad bin Ubadah di Madinah.

Ini perang pertama Nabi saw. Beliau pergi selama 15 hari. Bendera dibawa oleh Hamzah bin Abdul Muthalib

Kafilah dagang Quraisy

Tujuannya menghadang kafilah dagang, beliau pergi sampai waddan dan tidak terjadi apa-apa. Beliau mengadakan perjanjian dengan Amr bin Makhsyi, pemimpin Bani Dhamrah.

Perang Buwath

(Rabi’ul Awwal 2 H/September 623 M)

200 sahabat dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, diwakili Sa’ad bin Muadz di Madinah. Bendera perang dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqqash.

Kafilah dagang Quraisy beserta 100 orang Quraisy membawa 2500 onta, dipimpin oleh Umayyah bin Khalaf.

Rasulullah hendak menghadang kafilah dagang tersebut, beliau sudah tiba di Buwaith dari arah Radhwa, tapi tidak terjadi apa-apa.

Perang Safawan

(Rabi’ul Awwal 2 H/September 623 M)

70 sahabat dipimpin Rasulullah saw, diwakili Zaid bin Haritsah di Madinah. Bendera perang dibawa oleh Ali bin Abi Thalib.

Kurs bin Jabir Al-Fihry bersama beberapa orang Musyrik.

Kurs dan kaum Musyrik menyerbu kandang hewan gembalaan di Madinah dan merampok hewan-hewannya. Rasulullah mengejar mereka tapi tidak mendapatkannya.

Perang Dzul Usyairah

(Jumadil ‘Ula & Jumadil Akhirah 2 H/Nopember & Desember 623 M)

150/200 Muhajirin dipimpin Rasulullah saw, diwakili Abu Salamah Al-Makhzumy di Madinah. Bendera dibawa oleh Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kafilah dagang Quraisy yang hendak pergi ke Syam.

Rasulullah ingin menghadang kafilah itu. Namun, tatkala tiba di Dzul Usyairah rombongan Quraisy sudah lewat. Tapi terus dicar oleh Rasulullah yang kemudian menjadi sebab Perang Badr Kubra. Beliau sempat mengikat perjanjian dengan Bani Mudlij dan sekutu mereka dari Bani Dhamrah.

Sariyah Nakhlah

(Rajab 2 H/Januari 624)

12 orang Muhajirin dipimpin Abdullah bin Jahsy Al-Asady

Kafilah dagang Qurairy, di dalamnya terdapat Amr bin Al-Hadhramy, Utsman dan Naufal anak Abdullah bin Almugihirah, Al-Hakam bin Kaisan.

Pasukan Muslim berjalan sampai tiba di Nakhlah bertemu dengan kafilah Quraisy. Waktu itu hari-hari akhir bulan suci yang diharamkan perang, tabi Abdullah bin Jahs berijtihad tetap berperang dan menang serta membawa ghanimah. Sekembalinya mereka, Rasulullah tidak menyetujui tindakan mereka. Setelah itu turun surat Al-Baqarah: 217.

Itulah satuan-satuan pasukan yang dikirim ataupun yang dipimpin Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sendiri sebelum perang Badr. Dalam satu peperangan pun tidak terjadi perampasan harta dan juga tidak ada korban jiwa, kecuali satu insiden dalam perang Safawan yang dilakukan orang-orang Musyrik di bawah pimpinan Kurs bin Jabir, yang sebenarnya insiden itu bermula dari orang-orang Musyrik sendiri.

Setelah insiden antara kafilah dagang Quraisy dengan satuan pasukan Muslim yang dipimpin Abdullah bin Jahsy, orang-orang Musyrik mulai dirasuki perasaan takut. Dihadapan mereka terpampang bahaya yang nyata, mereka baru menyadari kekuatan yang dimiliki kaum Muslimin.

Sementara itu, setelah insiden Abdullah bin Jahsy pula Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan perang kepada orang-orang Muslim, tepatnya pada bulan Sya’ban 2 H. Ada beberapa ayat yang turun berkaitan dengan masalah ini, pertama surat Al-Baqarah: 190-193. Setelah itu Allah menurunkan beberapa ayat lain yang serupa mengajarkan cara-cara berperang kepada mereka, perintah berperang, dan penjelasan tentang hukum-hukumnya, yaitu surat Muhammad: 4-7. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak punya nyali, gemetar dan menggigil ketakutan tatkala mendengar perintah untuk berperang, dalam surat Muhammad: 20.

Pada hari-hari itu pula, yaitu pada bulan Sya’ban 2 H, atau Februari 624 M, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Di antara hikmah yang terkandung dalam pengalihan arah kiblat ini yaitu:

–         Untuk menyingkap kebimbangan orang-orang yang hatinya lemah, munafik dan Yahudi yang sudah bergabung dengan kaum Muslimin.

–         Menampakkan bentuk asli orang-orang munafik dan Yahudi.

–         Membersihkan barisan kaum Muslimin dari pengkhianatan.

–         Isyarat lembut tentang babak baru, yang bisa terwujud jika orang-orang Muslim dapat menguasai kiblat tersebut.

Setelah ada perintah dan isyarat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, semangat orang-orang Muslim semakin berkobar, begitu pula tekad mereka untuk terjun di jalan Allah dan kancah perang menghadapi musuh.


[1] Isi perjanjian lebih lengkapnya bisa dilihat di Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, I/502-503

[2] Isi perjanjian lebih lengkapnya bisa dilihat di Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, I/503-504

[3] Shahihul Bukhari, Kitabul Maghazy, II/563

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: