TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

MENSYUKURI DAN MENGAKUI NIKMAT ALLAH SWT

Posted by Fayyadh Albandy on 17 June 2010

Oleh: Fayyadh Albandy

  1. I. Hakikat Syukur

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata[1] Syukur menurut asalnya adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh Allah yang memberi nikmat dengan cara tunduk kepadanya, merendahkan diri dan menintainya. Maka dalam syukur itu seharusnya ada pengetahuan dengan hati, yang diikuti amal berdasarkan pengetahuan itu, yaitu condong kepada Robb yang memberi nikmat, mencintainyadan tunduk kepadanya.

  1. II. Kriteria Syukur Seorang Hamba

Seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah terkadang mereka lalai untuk mensyukurinya, tapi ada juga diantara mereka yang selalu mensyukurinya, maka dalam hal ini Ibnu Qayyim membagi kriteria hamba dalam beberapa bagian:

  1. Seorang hamba yang tidak mengetahui dari mana nikmat itu berasal, maka ia tidak akan mensyukurinya.
  2. Seorang hamba yang mengetahui nikmat tersebut, akan tetapi tidak mengetahui siapa yang memberikannya, ia termasuk hamba yang tidak akan mensyukurinya pula.
  3. Seorang hamba yang mengetahui nikmat, dan tahu siapa yang memberikannya, tetapi ia mengingkarinya seperti ingkarnya orang yang mengingkari Allah yang memberi nikmat, maka ia telah kafir.
  4. Seorang hamba yang mengetahui nikmat dan mengetahui siapa yang memberi nikmat, dia mengakuinya dan tidak mengingkarinya, akan tetapi ia tidak tunduk kepada-Nya dan tidak mencintai-Nya atau ridho kepada-Nya, maka ia termasuk hamba yang tidak bersyukur.
  5. Seorang yang mengetahuinya dan megetahui siapa yang memberi nikmat dan mengakuinya serta tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya dan ridho kepada-Nya, dan menggunakannya dalam kecintaan dan ketaatan kepadnya, maka inilah yang disebut orang yang bersyukur.

Dalam kaitannya dengan sikap hamba terhadap nikmat Allah SWT, Syaikh Muhammad bikn Abdul Wahhab mengutip firman Allah SWT:

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras (QS. Fusshilat: 50)

Dalam menafsirakan ayat di atas ada beberapa perkataan ulama, diantaranya sebagai berikut:

Mujahid mengatakan: “Ini adalah karena usahaku, dan akulah yang berhak dengannya. ”Ibnu Abbas mengatakan: “Maksudnya, ini adalah dari diriku sendiri.”

Hal ini semisal dengan sifat Qarun yang diabadikan Allah dalam firman-Nya:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (78)

“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (QS. Al-Qashash: 78)

Qatadah menafsirkan ayat ini mengatakan, “Maksudnya, karena pengetahuanku tentang cara-cara berusaha.” Ahli tafsir lainnya mengatakan, “Karena Allah mengetahui bahwa aku adalah yang patut untuk menerima harta kekayaan itu.” Inilah makna dari kata-kata Mujahid, “Aku diberi harta kekayaan ini atas kemuliaan(ku).” Tidak ada perbedaan dalam apa yan g telah disebutkan para ulama’ dalam menafsirkan ayat di atas, karena hal itu merupakan diantara maknanya.

Al-Imam Ahmad Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (49) قَدْ قَالَهَا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (50)

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.“(QS. Az-Zumar: 49-50)

“Allah memberi kabar bahwa manusia pada saat mengalami kesulitan, ia merendahkan diri kepada Allah Ta’ala, bertaubat dan berdoa kepada-Nya. Kemudian jika Allah memberikan nikmat kepadanya, ia melewati batas dan durhaka, dan ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’” Maksudnya ‘karena Allah mengetahui bahwa aku berhak untuk diberi. Seandainya aku di sisi Allah bukan orang  yang berhak, tentu Allah tidak akan memberikannya kepadaku.’[2]

Allah Ta’ala berfirman, “Sebenarnya itu adalah ujian”, maksudnya permasalahannya bukan seperti apa yang ia sangka. Akan tetapi, maksudnya yaitu ‘Kami memberi nikmat ini kepadanya karena Kami ingin mengujinya dengan nikmat yang Kami berikan kepadanya, apakah ia akan taat atau malah durhaka? Meskipun Kami telah mengetahui sebelumnya.’

“Sebenarnya itu adalah ujian,” fitnah, artinya ujian. “Tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui”, untuk itu mereka mengatakan apa yang mereka katakan dan mereka mengaku apa yang aku sangka. “Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula”, maksudnya ucapan ini telah diucapkan dan sangkaan ini telah disangkakan oleh banyak orang dari para pendahulu mereka.

“Maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan,” maksudnya perkataan mereka tidak benar, harta yang mereka usahakan tidak berguna, sebagaimana firman Allah ta’ala ketika memberitahu tentang Qarun, “(QS. Saba’ : 35).

  1. III. Hadits Kisah Tentang Syukur

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat, pertama, datangalah malaikat itu kekpda si pendetita lepra dan bertanya kepadanya, ‘Apakah suatu yang paling kamu inginkan?’ Ia menjawab, ‘Rupa yang elok, kulit yang indah dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.’ Maka diusaplah penderita lepra itu, dan hilanglah penyakit yang di deritanya, serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, ’lalu kekeayaan apa yang paling kamu senangi?’ jawabnya, ‘unta atau sapi’. Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan, semoga Allah melimpahkan berkahnya kepadamu dengan unta ini.

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak, dan bertanya kepadanya, ‘apakah suatu yang paling engkau inginkan?’ Ia menjawab, ‘Rambut yang indah, dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang.’ Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikatpun bertanya lagi kepadanya, ‘Kekayaan apa yang paling engkau senangi?’ Jawabnya, sapi atau unta. Maka diberilah ia seekor sapi bunting dan didoakan, ‘Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.’

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, ‘Apakah sesuatu  yang paling engkau iginkan?’ Ia menjawab, ‘Semoga Allah berkenan mengembalikan pengelihatanku, sehingga aku dapat melihat orang-orang.’ Maka diusaplah wajahnya dan keetika itu dikembalikan oleh Allah pengelihatannya. Malaikatpun bertanya lagi kekpadanya, ‘Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?’ Jawabnya ‘kambing’, maka diberilah ia seekor kambing bunting. Lalu berkembang biaklah, unta, sapi , dan kambing tersebut sehingga yang pertama mempunyai selembah unta, yang kedua mempunyai selembah sapi, dan yang ketiga mempunyai selembah kambing.”

Sabda Nabi SAW selanjuntnya, “Kemudian, datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita lepra, dengan menyerupai dirinya dan berkata, ‘Aku seorang yang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah melalui dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang elok, kulit yang indah dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor unta saja untuk melanjutkan perjalananku.’ Tetapi dijawab, ‘Hak-hak (tanggunganku banyak)’. Malaikat yang menyerupai penderita lepra itu pun berkata kepadanya, ‘sepertinya aku mengenal anda, bukankah anda yang dulu menderita lepra? Orang-orang jijik kepada anda, dan melarat pula, lalu Allah memberikan anda kekayaan?’ Dia malah menjawab, ‘Sungguh, harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.’ Maka malaikat itu berkata kepadanya, ‘jika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.’

Lalu, malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya dan berkata kepadanya seperti yang dia pernah katakan kepada penderita lepra. Tetapi ia ditolak sebagaimana telah ditolak oleh orang yang pertama, maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya, ‘Jika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan semula.’

Terakhir malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, ‘Aku adalah seorang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang tealah  mengembalikan pengelihatan anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.’ Orang itu menjawab, ‘Sungguh aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan pengelihagtanku. Maka, ambilah apa yang anda sukai dan tinggalah apa yang anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak kakan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.’ Malaikat yang menyerupai orang itu berkata, ‘Peganglah kekayaan anda, karena sesunguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridho kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.”[3]

Hadits ini adalah hadits yang agung. Di dalamnya ada pelajaran bahwa kedua orang pertama telah mengingkari, tidak mengakui dan tidak menisbatkan nikmat kepada Allah yang memberi nikmat dan orang yang tidak menunaikan hak-Nya dalam nikmat yang ada pada mereka. Maka, keduanya tertimpa kemurkaan.

Adapun orang yang buta, ia telah mengakui nikmat Allah dengan menisbatkannya kepada Allah yang memberi nikmat dan menunaikan hak-Nya Allah. Maka ia mendapatkan keridhoan dari Allah karena ia telah mensyukurinya dengan melakukan tiga pokok syukur, yang mana suatu kesyukuran tidak akan berdiri kecuali dengannya, yaitu mengakui nikmat, menisbatkan nikmat kepada allah, yang telah memberikan nikmat, dan membelanjakannya di jalan yang benar.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


[1] Dalam madarijus salikin II/135-144

[2] Dalam Tafsir Ibnu Katsir ada tambahan: Qatadah berkata, “Karena ketintaranku, karena kebaikanku.”

[3] Hadits Riwayat Bukhari Muslim.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: