TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

GELISAHNYA HATI DAN JIWA

Posted by Fayyadh Albandy on 16 June 2010

Oleh: Fayyadh Albandy

Kehidupan ini bak arung jeram, kita dituntut untuk mengarungi derasnya aliran sungai menuju garis finis, banyak rintangan di sana-sini, mulai dari bebatuan terjal, batang pohon tumbang yang melintangi sungai, kelokan dan tikungan tajam, bahkan tebing curam dan dalam. Namun di sisi lain, kita dapat menikmati keindahan yang begitu menawan, air yang jernih, pepohonan yang rindang, udara sejuk, dan beraneka ragam kekayaan alam-Nya. Kita juga akan merasa puas dan bangga jika dapat mencapai garis finis. Sebaliknya, kita akan kecewa dan gelisah jika tak dapat melewati rintangan yang ada. Maka begitulah hidup, nikmat dan ujian akan senantiasa ada.

Hati dan Jiwa ini terkadang terkena wabah penyakit yang samar tapi dahsyat pengaruhnya. Yaitu penyakit ‘kegelisahan’ dan semacamnya. Tidak ada seorang manusia pun yang terlepas dari suatu kegelisahan dan penyakit lain yang sejenisnya ini. Maka pembahasan kali ini akan terfokus pada “Bagaimana jalan keluar dari kegelisahan?”

Seluruh manusia, apapun agama dan aqidahnya, pasti mempunyai kegelisahan dalam hatinya. Ada yang menampakkan kegelisahannya dengan sikap-sikap dhahir, mungkin dengan mengadukan permasalahannya pada orang yang dipercayainya, atau dengan cara yang lainnya. Tetapi, ada pula yang menyembunyikan kegelisahan itu dalam hatinya sendiri, sehingga akan timbul akibat-akibat dari padanya.

Kegelisahan yang ada dalam diri seseorang akan dapat melelahkan jiwanya, meluluhkan semangatnya, dan membakar hatinya. Dan kadar kegelisahan yang ada pada setiap orang, tergantung kadar cita-cita dan azam yang dimiliki oleh orang tersebut dalam menghadapi suatu permasalahan hidup. Suatu hal yang kecil, akan terlihat sangat besar dan berat pada seorang yang mempunyai semangat dan azam yang kecil, atu bahkan tidak ada. Sebaliknya, suatu yang besar akan terlihat kecil dan mudah pada seorang yang mempunyai semangat dan azam yang tinggi. Maka, setiap individu mempunyai kadar kegelisahan yang berbeda berdasarkan kadar kemauannya dan azam yang ada pada individu tersebut.

Kemauan dan semangat meraih tujuan adalah rizqi dari Allah U. Oleh karenanya, manusia berdasarkan semangat dan orientasinya terbagi beberapa bagian, yaitu:

  1. Orang yang orientasinya seperti tanah, yaitu hanya memenuhi nafsu syahwatnya.
  2. Orang yang orientasinya tertuju pada materi belaka. Halal dan haram mereka anggap sama.
  3. Orang yang orientasinya lebih kepada wanita, dengan jalan halal ataupun jalan haram.
  4. Orang yang orientasinya hanya menyibukkan diri pada masalah pribadi dan familinya.
  5. Orang yang orientasinya lebih mementingkan dakwah dan nasib umat.
  6. Orang yang orientasinya lebih mengutamakan pada perkara-perkara dien.

Oleh karenanya, semakin rendah tujuan dan orientasi hidup seseorang, dalam artian mementingkan kehidupan duniawi, maka akan lebih besar potensi kegelisahan yang ada dalam dirinya. Sebaliknya, jika tujuan dan orientasi hidup seseorang yang tertuju pada hal mulia yaitu yang bermuara pada akhirat, maka potensi kegelisahan dalam dirinya sangat kecil.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (20) انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْآَخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا (21)

18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir 19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. 20. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. 21. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.(Al-Isra’: 18-21)

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ (36) رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمْ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (38)

36. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, 37. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. 38. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya ALlah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

– وعن عبد الله بن مسعود قال : سَمِعْتُ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ (رواه ابن ماجه)

“Barang siapa yang menjadikan tujuan hidupnya tujuan yang satu yaitu akhirat, maka Allah U akan mencukupkan baginya cita-cita dunianya. Dan barang siapa yang tujuannya terpecah-pecah pada masalah dunia, maka Allah U tidak akan memperhatikannya, dan dalam segala perkara dia akan binasa.”

– عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan mejadikan kekayaan pada hatinya, mengumpulkan kenikmatan padanya, serta memberikan padanya dunia sedangkan ia membencinya. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagi tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan ada dihadapannya, memisahkannya dari kenikmatan, serta tidak akan diberi dunia kecuali sekedarnya saja.”

Jadi, tujuan hidup pada dasarnya sangat bermacam-macam berdasarkan keadaan manusia yang bermacam-macam pula. Setiap manusia, apapun agama dan aqidahnya, pasti akan mempunyai tujuan hidup. Namun, bak bumi dan langit, sangat jauh berbeda antara tujuan dan orientasi orang mukmin dan non mukmin, antara muslim dan non muslim, bahkan antara muslim yang mempunyai tujuan mulia (akhirat) dengan muslim yang tujuannya adalah rendah (dunia).

(إن الله تعالى يحبُ معالي الأمور، وأشرافها ويكره سفسافها) صحيح (رواه الطبراني في الكبير).

“Sesungguhnya Allah U menyukai perkara-perkara yang tinggi dan mulia, dan membenci perkara-perkara yang rendah dan buruk.”

Kegelisahan, kesedihan, kekhawatiran, stres dan semacamnya adalah penyakit udhol, yaitu penyakit yang ada penawarnya. Dan merupakan penyakit yang berbahaya, yang berkembang lebih pesat pada masa ini. Karena, pada masa ini pula menyebar pikiran-pikiran materialistis, liberalis, nasionalis, komunis, dan semacamnya yang ini merupakan suatu bentuk dari fitnah syubhat dan syahwat.

Menurut penelitian, di dunia ini banyak sekali orang yang terkena wabah penyakit ini. Di Amerika dan Eropa orang yang terkena penyakit kronis ini (Kegelisahan, kesedihan, kekhawatiran, stres dan semacamnya) mencapai 31%, di Mesir sekitar 24%, di Sudan 33%, akan tetapi perhitungan ini akan senantiasa bertambah pada suatu daerah, dengan bertambahnya fitnah dan bencana. Sebagaimana yang terjadi di Palestina, Iraq, Afghanistan, dll. Atau, jika kita mau menilik lebih jauh pada sebuah keluarga, maka terkadang kita dapati, baik pada seorang figur ayah, atau ibu, atu anak terkena penyakit ini, mereka mempunyai kegelisahan pada diri mereka.

Karena bahayanya penyakit ini kita dituntut untuk senantiasa mencegah hal-hal yang menyebabkannya, bahkan Nabi r bahkan memohon perlindungan pada Allah dari penyakit ini dengan doa sebagaimana dalam hadits

اللهم إني أعوذُ بك من الهمِّ والحزْنِ، وأعوذُ بك من العجزِ والكسلِ، وأعوذُ بك من البُخْلِ والجبنِ (3) ، وأعوذُ بك من غلبة الدّينِ وقهْرِ الرِّجالِ ( تفرد به أبو داود )

Diantara sebab-sebab terpenting dari timbulnya kegelisahan pada diri seseorang adalah kekosongan atau al-farogh. Yang mana kekosongan terbagi menjadi 4 hal, yaitu:

  1. Al-farogh al-qolbu (kekosongan hati): kekosongan hati dari Iman, Yaqin, Khauf, Mahabbah, Roja’, Taqwa, dll.
  2. Al-farogh an-nafs (kekosongan jiwa): kekosongan dari segala amalan yang haq, maka akan cenderung melakukan yang batil, sebagaimana firman Allah U dalam surat as-Syams:

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya 9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 8-10)

Karena sesungguhnya jiwa itu jika tidak dalam kebaikan maka berada dalam kebatilan dan sebaliknya.

  1. Al-farogh al-aql (kekosongan akal): kekosongan akal ini sangat bahaya, bisa diibaratkan orang tersebut tidak berakal, bukan karena gila. Akan tetapi akal yang dimiliknya membawa pada kesesatan. Karena akalnya telah dipenuhi dengan hawa nafsu. Sehingga terkadang dia menuruti akalnya, bahkan menjadikannya sebagai tuhan yang selalu diikutinya.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)

23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al-Jatsiyah:23)

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِير

10. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk: 10)

Jika akal kita seperti yang diindikasikan ayat-ayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akal tersebut sedang sakit dan terkena penyakit ini, yaitu kegelisahan dan semacamnya.

  1. Al-farogh al-badani (kekosongan pada badan): maksudnya adalah, kekosongan badan atau fisik dari pekerjaan, baik yang berhubungan dengan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sehingga yang timbul adalah kegelisahan dalam badan, yang akan membawa kepada perbuatan yang negatif. Maka hal ini membutuhkan terapi, dengan mengurangi makan, mengurangi tidur.

Dengan mengetahui sebab-sebab adanya kegelisahan yang timbul pada diri seseorang, maka seharusnya kita lebih bisa mengantisipasi terjadinya penyakit itu pada diri kita, yaitu dengan melakukan hal-hal positif, serta menancapkan pada tekad kita satu tujuan yang tinggi yang mulia, sehingga dalam melakukan segala sesuatu tujuan kita tertuju hanya untuk kebaikan kita di akhirat. Dan Sesungguhnya dengan dzikrullah, selalu mengingat Allah U dimanapun dan kapanpun kita berada, dapat menghilangkan kecemasan, kekhawatiran, kesedihan, dan duka dari dalam hati kita, sehingga hati dan jiwa kita akan senantiasa terasa tenang dan tenteram.

Semoga Allah U menghilangkan kesedihan dan kegelisahan yang ada pada diri kita semua, menghilangkan kesusahan kita, dan menghindarkan kita dari segala bala’. Karena hanya Dialah yang mampu akan semua hal itu. Amiin…!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: