TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

Banyak Da’i Banyak Maksiat, Kenapa???

Posted by Fayyadh Albandy on 3 June 2010

Oleh: Fayyadh Albandy

  1. I. Latar Belakang

Indonesia, adalah negara berpenduduk umat Islam terbesar di dunia. Setidaknya kita sebagai rakyatnya ada rasa bangga dengan kenyataan tersebut. Karena jika ditilik dari sejarah saja, penyebaran Islam di Indonesia tidak secepat Negara-negara Arab yang notabene adalah negrinya para Nabi. Ironisnya, umat Islam  yang dengan kwantitas yang tinggi ini, tidak dibarengi dengan kwalitas yang sepadan. Buktinya, kemaksiatan masih begitu leluasa menyebar di negara ini. Baik dari individunya sampai pada ruang lingkup yang lebih besar lagi, yaitu pemerintahan masih, bahkan selalu ada saja tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, terlebih lagi norma agama Islam sebagai agama terbesar.

Hari ini kebutuhan dakwah semakin besar. Umat saat ini sedang ditimpa berbagai musibah di segala lini kehidupan. Inilah kondisi masyarakat ketika tidak ada lagi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Mereka tidak lagi menempati posisi yang telah ditetapkan oleh Allah.

Keadaan ini menuntut adanya sekelompok orang yang senantiasa berusaha menegakkan kebenaran, baik dengan cara menasehati perindividu, pembinaan kelompok, atau dakwah secara terang-terangan di masyarakat. Maka, sangat diperlukan individu-individu yang sanggup memikul tanggung jawab dakwah kepada Allah dan perbaikan masyarakat. Kita sebagai bagian dari masyarakat, dituntut mampu memberi warna positif kepada masyarakat. Dan setiap Muslim pada hakikatnya mempunyai kewajiban itu. Inilah tugas kita sebagai penerus risalah Nabi.

Era kenabian memang telah usai. Namun, risalahnya tetap kekal abadi. Kitab Allah masih terus membiasakan cahaya dan menjadi solusi bagi problematika yang menghimpit umat. Sunah Rasulullah masih ada dan umat ini tetap mewarisi ilmu serta perilaku para nabi. Semua ini untuk memperbarui dan mengembalikan umat manusia pada agama Allah yang benar.

Saat ini, bisa dikatakan da’I sudah banyak menyebar di penjuru Indonesia, walaupun tidak sedikit juga daerah yang belum dijamah. Akan tetapi, di daerah yang sudah banyak da’I, kenapa masih banyak juga maksiat, salah siapakah ini? Dimanakah orang yang berdakwah di jalan Allah?

  1. II. Dakwah di Masyarakat

Dakwah, adalah satu ibadah yang sangat agung, ladang untuk menuai pahala, dan tugas sangat mulia yang Allah embankan di pundak para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat, para pengembannya merupakan manusia-manusia terbaik perkataanya. Akan tetapi banyak yang tidak memahami makna serta tujuan dakwah yang sebenarnya, sehingga tidak mengajak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi justru mengajak kepada selain-Nya. Ada yang mengajak kepada kelompok dan golongan tertentu. Ada yang menjadikan dakwah sebagai sarana untuk mencari dunia dan popularitas. Bahkan ada dengan tujuan untuk merekrut massa (pengikut). Maka, bagaimanakah tujuan dakwah yang sebenarnya, serta apa saja yang harus diperhatikan oleh seorang dai ketika ia berdakwah?

Dakwah ilallah, adalah mengajak kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada syariat-Nya, dan melarang semua yang menyelisihinya, baik yang berupa akidah, perbuatan, perkataan maupun akhlak. Tujuan utama dakwah, ialah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Memberi petunjuk kepada manusia dan menjelaskan kebenaran kepada mereka.

Allah membebankan dakwah kepada semua kaum Muslimin sebagaimana Dia membebankannya kepada kepada para nabi. Allah juga mewariskan tugas para nabi kepada mereka. Oleh karena itu, bila ada yang mengatakan bahwa dakwah adalah tugas para ulama’ terkenal, para tokoh terkemuka, atau para ustad yang kita saksikan di beberapa chanel televisi, yang kita dengar dalam siaran radio, atau kita baca dalam makalah atau buku-buku mereka, berarti orang itu telah terpedaya dan tertipu. Dakwah adalah kewajiban setiap Muslim. Baik laki-laki, perempuan, kecil, besar, terpelajar maupun tidak, semua wajib berdakwah.

Rasulullah pernah mengirim para dai untuk mengajarkan dan memahamkan Islam. Mereka diutus oleh Rasulullah untuk menunjukkan masyarakat pada jalan yang benar dan lurus. Para sahabat memahami benar bahwa hukum dakwah adalah wajib. Karena itu, mereka memohon kepada Rasulullah agar segera mengajarkan Islam dan memahamkan mereka untuk kemudian didakwahkan kepada kaum mereka. Bahkan, orang yang baru masuk Islam sekalipun mengetahui urgensi dakwah. Ia mengetahui bahwa dakwah adalah wajib.

Bertolak dari itu semua, kewajiban dakwah tidak dikhususkan bagi para ulama, dai, dan penuntut ilmu. Kewajiban dakwah adalah umum bagi seluruh kaum Muslimin. Hanya saja, khusus bagi para ulama dan penuntut ilmu wajib menyampaikan dakwah secara detail, terkait hukum dan makna-maknanya. Bahkan, bagi orang yang mempelajari ilmu din meskipun hanya sedikit, ia wajib mengamalkan dan menyampaikan ilmunya kepada orang lain. Maka, kita sebagai da’I, seharusnya juga mengerti bagamana sosok ideal seorang da’I yang dapat mewarnai masyarakat, supaya dapat menghambat dan menghilangkan kemaksiatan di dalamnya.

III. Sosok Ideal Seorang Da’i

Kriteria seorang da’I yang ideal dapat dicakupkan dalam dua hal, hendaknya dian mengetahui betul tentang ilmu syar’i, dan alimun bil waqi’ dengan artian, bahwa seorang dai harus mempunyai ilmu-ilmu agama Islam yang memadai, setidaknya dasar-dasarnya, kemudain mengetahui situasi dan kondisi keadaan masyarakat. Kemudian dengan mengkomparasikan keduanya dia akan dapat menjalankan dakwah dengan ideal.

Rasul tidak pernah mengirim orang awam atau orang bodoh untuk mengajak manusia kepada agama ini. Akan tetapi mengutus para da’i dan ulama. Dari sini kita dapat mengetahui bahaya dan mudlaratnya sebagian jama’ah-jama’ah dakwah yang mengumpulkan orang dari pasar, lalu mengarahkan mereka dan mengutus mereka sebagai khatib dan pemberi peringatan. Mereka menasehati dan mengingatkan manusia, sementara mereka tidak memiliki ilmu. Sehingga mereka mengangap jelek sesuatu yang baik dan menganggap benar sesuatu yang salah. Mereka menyebarkan hadits-hadits palsu dan cerita-cerita bohong mengenai Rasulullah. Mereka menyangka telah berbuat baik padahal tidak. Oleh karena itu, seorang da’i harus mengetahui keadaan obyek dakwah, subyek dan materi dakwahnya serta memiliki kemampuan mematahkan hujjah dengan hujjah, dalil dengan dalil. Demikian juga mampu mengalahkan kebathilan dengan kebenaran.

Dan hendaklah seorang da’i menyadari, bahwa kemalasannya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subanahu wa Ta’alal berbeda dengan orang lain, karena dia sebagai contoh bagi orang lain. Tatkala orang melihatnya malas, maka orangpun akan berbuat semisalnya, atau bahkan lebih parah lagi. Sebagaimana pelanggaran hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh da’i, tidaklah sama dengan pelanggaran yang dilakukan orang lain, karena ini akan diikuti, sehingga tersebarlah maksiat dimana-mana dengan dalih, da’i fulan melakukannya.

Terkadang perkara yang sunnah bisa menjadi wajib bagi seorang da’i. Artinya, seorang da’i dituntut untuk senantiasa mengamalkan yang sunnah, supaya orang lain mencontohnya sehingga sunnah itu tersebar di masyarakat. Demikian juga perkara yang makruh bisa menjadi haram bagi seorang da’i. Artinya, seorang da’i dituntut untuk senantiasa meninggalkan perkara yang makruh, supaya orang lain tidak mencontohnya dan menganggap itu perkara yang mubah, sehingga perkara yang makruh tersebut tidak menjadi kebiasaan di masyarakat. Disinilah seorang da’i mempunyai amanah yang berat dan tanggung-jawab yang besar. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong kita dalam menunaikan tanggung-jawab ini.

IV. Prioritas Dan Pokok-Pokok Utama Dakwah

Tidak diragukan lagi, bahwa prioritas dan pokok-pokok dakwah Islamiyah sejak diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari Kiamat tetap sama, tidak berubah karena perubahan zaman. Adakalanya sebagian pokok-pokok itu telah terealisasi pada suatu kaum dan tidak ada hal yang menggugurkannya atau mengurangi bobotnya, pada kondisi seperti ini, sang da’i harus membahas perkara-perkara lainnya yang dipandang masih kurang.

Kendati demikian, pokok-pokok dakwah Islamiyah sama sekali tidak berubah. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda. “Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka pelaksanaan lima kali shalat dalam sehari semalam….”

Dalam dakwah juga tidak kalah penting perlu di terangkan masalah akhlaq dan moral kepada masyarakat, karena Rasulullah pun juga diutus sebagai penyempurna akhlaq, beliau mendakwahkan akhlaq ini dimulai dari diri beliau sendiri, keutamaan dan keluhuran akhlaq beliau menjadi suri tauladan bagi umatnya. Dalam suatu masyarakat yang kualitas moralnya rendah, maka tak diragukan lagi tingat kemaksiatan di dalamnya juga tinggi. Karena tingkat keburukan akhlaq juga berperan besar dalam peningkatan kemaksiatan. Oleh karenanya pembinaan akhlaq tak dapat dilepaskan dari prioritas dakwah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: