TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

Aneh… Adakah Pelindung Selain Allah???

Posted by Fayyadh Albandy on 3 June 2010

Oleh: Fayyadh Albandy

Di suatu daerah di Indonesia, pada waktu-waktu tertentu masyarakat di daerah tadi bersama-sama mengadakan suatu upacara, lebih tepatnya suatu ritual ‘aneh’. Mereka membuat gunungan, yaitu makanan pokok, buah-buahan, sayur-sayuran, dan makanan lainnya yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk gunung berukuran kecil. Kemudian gunungan tadi di letakkan di atas perahu untuk diarungkan ke laut. Menurut keyakinan mereka, hal ini bertujuan untuk meminta perlindungan pada roh penjaga lautan agar melindungi mereka dari segala marabahaya.

Inilah salah satu potret masyarakat indonesia pada umumnya. Masih banyak lagi ritual-ritual yang beragam dari berbagai daerah, khususnya di negara kita Indonesia. Hal semacam ini merupakan suatu bentuk dari al-Isti’adzah bighoirillah (berlindung kepada selain Allah). Berikut akan dijelaskan secara singkat tentang hakikat al-Isti’adzah bighoirillah.


Pengertian

Al-Isti’adzah secara bahasa berasal dari kata ‘audzan, wa ‘iyaadzan yang berarti berlindung atau meminta perlindungan. Pengertian secara syar’i, al-Isti’adzah yaitu meminta perlindungan kepada Allah SWT dari segala sesuatu yang membahayakan dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,agar terhindar dari segala keburukan. al-‘Iyyad berarti meminta perlindungan dari keburukan, al-Liyyad berarti meminta kebaikan. Dan Al-Isti’adzah ini merupakan salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya : “Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah SWT, sesungguhnya Dialah  Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Fusshilat : 36)

Hukum Pelaku Al-Isti’adzah bighoirillah

Al-Isti’adzah bighoirillah dapat menjerumuskan pelakunya kedalam dosa besar. Karena pada hakikatnya, jika seseorang meminta perlindungan kepada selain Allah SWT, maka dia akan tunduk terhadap ketentuan-ketentuan dari yang dia mintai perlindungan tadi, Sampai-sampai mengibadahinya.

Maka, orang yang bersekongkol dengan syaitan, dia telah menjadi hamba syaitan dan syaitan akan terus membantunya. Akan tetapi walaupun syaitan telah membantu orang tersebut, syaitan tidak menjadi hamba orang tersebut, karena syaitan itu tidak tunduk dan menyembah orang tersebut, sebagaimana orang tadi tunduk dan menyembah syaitan.

Tentang hal ini, Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengutip ayat Allah SWT dari surat Al-Jin : “ Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”(QS. Al-Jin : 6)

Ayat di atas mengungkapkan kebiasaan orang Arab dahulu. Mujahid berkata, “Ada di antara orang-orang Arab bila mereka melintasi tempat yang sunyi, maka mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap kuasa di tempat itu, maka bertambahlah pada mereka rohaqo, yaitu kekafiran dan kelaliman (kesewenang-wenangan) mereka.

Sedangkan Imam al-Qurtubi menyebutkan di dalam tafsirnya, “Ibnu Zaid berkata tentang ayat (QS. Al-Jin : 6), dia berkata : “maka jin akan menambahkan ketakutan kepada mereka”. At-Thobari lebih membenarkan pendapat yang pertama, yaitu ma’na rohaqo dalam ayat tersebut adalah kekafiran dan kelaliman (kesewenang-wenangan). Karena jin akan selalu membujuk mereka untuk menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT.

Jadi, orang yang melakukan Al-Isti’adzah bighoirillah, maka dia telah melakukan dosa besar yaitu syirik. Dan ulama’ telah bersepakat bahwa orang yang melakukan syirik besar dengan sengaja, kemudian dia tidak bertaubat, maka dia telah keluar dari Islam, terhapus segala amal-amalnya, dan tempatnya adalah di neraka.

Al-Isti’adzah billah (Berlindung kepada Allah SWT)

Berlindung kepada selain Allah SWT merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT, sebaliknya Allah SWT dan Rasul-Nya r telah mengajarkan kepada kita tentang cara Al-Isti’adzah yang disyari’atkan dalam islam. Diantaranya yaitu :

1. Dengan menggunakan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an, seperti yang Allah SWT perintahkan dalam surat Al-Mu’awidzatain : “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh’” (QS. Al-Falaq: 1). “Katakanlah: ‘Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia’” (QS. An-Nas: 1)

2. Dengan menggunakan do’a-do’a yang  telah diajarkan oleh Rasulullah r kepada kita, diantara yaitu :

  • Dari Khoulah binti Hakim dia berkata, aku mendengar Rasulullah r bersabda : “Barang siapa yang singgah di suatu tempat, kemudian dia berdo’a :

” أعوذ بكلمات الله التّا مّة من شرّ ماخلق “

“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari keburukan makhluq yang Dia ciptakan” maka dia tidak akan membahayakannya sesuatu apapun, sampai dia meninggalkan tempat itu.”

  • Dari ‘Amr bin Syua’ib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Nabi r mengajarkan kepada mereka (para sahabat) beberapa kalimat (do’a) yang diucapkan ketika merasa terkejut, yaitu :

” أعوذ بكلمات الله التّا مّة من غضبه و شرّ عباده ومن هزمات الشّياطين وأن يخضرون “

“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurakaan-Nya dan dari kejahatan hamba-hamban-Nya, serta dari goda’an syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.”

Di dalam isti’adzah terkandung dua amalan, yakni amalan lahir dan amalan batin. Amalan lahirnya adalah ketika dia meminta perlindungan itu sendiri kepada yang lain, bisa dengan sesama makhluk atau dengan sang Kholiq, yakni agar terjaga atau terselamatkan dari kejelekan. Dan amalan batinnya adalah berupa bersandarnya hati, tenangnya hati dan sikap pasrahnya menyerahkan hajatnya kepada orang atau siapa yang mampu melindunginya.

Maka apabila terkumpul isti’adzah pada dua macam ini, yakni amalan lahir dan amalan batin, maka isti’adzah ini harus ditujukan hanya kepada Allah SWT. Namun apabila yang dimaksudkan dengan isti’adzah adalah hanya terbatas pada amalan lahir saja, maka boleh ditujukan kepada selain Allah SWT (kepada makhluk). Seperti seorang yang meminta perlindungan kepada polisi dari ancaman pembunuhan atau bahaya lainnya. Maka hal seperti ini hukumnya boleh namun dengan syarat berikut ini :

1. Pertama, perkara tersebut adalah perkara yang mampu dilakukan oleh makhluk.

2. Kedua, orang yang dimintai tersebut masih hidup.

3. Ketiga, orang yang dimintai tidak dalam keadaan ghoib (terjadi komunikasi)

Maka barang siapa yang ketika dalam isti’adzahnya kepada selain Allah SWT (kepada makhluk) itu tidak memenuhi ketiga syarat di atas maka sesungguhnya dia telah melakukan kesyirikan kepada Allah SWT dalam hal isti’adzah.

Sebagai umat yang beriman, maka sudah seharusnya kita menjauhi segala hal yang berbau kesyirikan, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala marabahaya, di dunia dan akhirat. Wallahul musta’an.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: