TELA'AH MASALAH DEMI MASLAHAH

AGAR KEBENARAN TAK SEMU DI HATI

Jabir Atsaratul Kiraam

Posted by Fayyadh Albandy on 22 April 2010

Abu Qosim At-Thanuhy bercerita, : “Pada zaman kekuasaan Sulaiman bin Abdul Malik, terdapat seseorang yang kerap disebut dengan Khuzaimah bin Bisyr. Khuzaimah ini adalah seirang yang mempunyai kewibawaan dan keutamaan, seta berkelakuan bai terhadap saudara-saudaranya. Dia selalu dalam keadaan seperti itu, hingga pada suatu ketika Khuzaimah sangat membutuhkan pertolongan dari saudara-saudaranya yang dulu Khuzaimah sering memuliakan mereka. Saudara-saudara itu pun memberikan apa yang dibutuhkan Khuzaimah beberapa lama, sampai mereka merasa jenuh dengan tingkah laku Khuzaimah. Ketika tampak pada Khuzaimah perubahan pada saudadra-saudadranya, Khuzaimah lantas mendatangi istrinya, yang mana istrinya itu adalah sepupunya sendiri. Khuzaimah berkata, : “Wahai sepupuku, sungguh aku telah melihat perubahan pada saudara-saudaraku. Dan aku telah bertekat untuk tidak akan keluar dari rumah sampai ajal menjemputku.” Lalu dia menutup pintu rumahnya. Tinggalah dia sampai habislah persediaan makanannya, higga akhirnya dia berada dalam kebingungan.

Pada suatu ketika, Ikrimah al-Fayyadh ar-Robi’I pernah menjadi penguasa di seluruh jazirah, suatu hari Ikrimah sedang berada di tengah-tengah majlis bersama penduduk negri itu, tiba-tiba terjadi perbincangan tentang Khuzaimah bin Bisyr di dalam majlis itu, seketika itu pula Ikrimah pun berkata :”Bagaimana keadaanya?”, para jama’ah pun menjawab :”Keadaannya Khuzaimah sekarang menjadi sangat buruk, hingga tidak dapat digambarkan keadaan tersbut. Dia mengunci pintu rumahnya dan berdiam diri di dalamnya.” Kemudian Ikrimah berkata :”Apakah Khuzaimah mendapatkan sesuatu pemberian yang mencukupkan baginya?” mereka berkata :”Tidak”. Ikrimah pun terdiam.

Ketika malam telah tiba, Ikrimah pergi dengan membawa empat ribu dinar yang diletakkan di suatu kantong. Kemudian dia memerintahkan seseorang untuk memakaikan pelana pada hewan kendaraannya, lalu pergilah dia tanpa diketahui penduduk negrinya. Ikrimah pergi menunggang binatang ternaknya bersama seorang pengawal dengan membawa harta, mereka berjalan hingga tiba di depan pintu Khuzaimah, lalu Ikrimah mengambil kantong yang dibawa oleh pengawal tadi, kemudian meminta pengawal tersebut agar menjauh darinya. Ketika Khuzaimah keluar dari rumahnya, Ikrimah langsung memberikan kantong tadi, seraya berkata :”Perbaikilah keadaanmu dengan ini!” Khuzaimah pun menerimanya, akan tetapi setelah melihat kantong tadi berat, Khuzaimah pun meletakkannya, lalu memegangi kekang hewan tunggangan Ikrimah seraya berkata kepadanya : ”Siapa engkau, aku menjadi tebusanmu?” Ikrimah pun berkata : “Hei… tidaklah aku mendatangimu pada jam seperti ini karena aku ingin engkau mengenaliku.” Khuzaimah berkata : “Aku tidak akan menerima harta ini, atau engkau memberitahuku siapa dirimu!” Ikrimah berkata : “Aku Jabir si Rajawali yang dermawan.” Khuzaimah berkata : “Tambahkan lagi!” Ikrimah berkata : “Tidak ada tambahan.” Lalu dia pergi. Sementara Khuzaimah masuk ke rumahnya dengan membawa kantong tadi, lalu berkata kepada istrinya : “Bergembiralah kamu wahai isriku, karena Allah U telah memberikan kelapangan dan kebaikan, jika saja kantung ini berisikan uang, maka tentu akan sangat banyak. Bangunlah! Nyalakanlah lampu!” istrinya berkata : “Tidak ada jalan untuk menyalakan lampu” Maka, Khuzaimah pun meraba kantung tersebut. Dia mendapati di dalamnya terdapat banyak kepingan emas, dia pun tidak mempercayainya.

Ikrimah pun kembali ke rumahnya, dan mendapati istrinya sedang mencari-carinya. Sang istri lalu bertanya perihalnya. Sang istri mendapatkan kabar bahwa Ikrimah pergi dengan menunggangi hewan peliharaannya sendirian, maka sang istri pun curiga, hatinya serasa terbelah. Dia menampari wajahnya. Ikrimah berkata : “Ada apa denganmu?” sang isteri berkata : “Wahai sepupuku, engkau telah berkhianat!” Ikrimah berkata : “Dengan apa?” sang istri berkata : “Tidask ada seorang pemimpin negara, pada malam hari yang sepi, pergi dari anak-anaknya seorang diri, dengan bersembunyi dari keluarganya, kecuali ke tempat istrinya atau berperang. Ikrimah pun berkata : “Allah U mengetahui aku tidak pergi ke salah satu dari keduanya.” Sang istri berkata : “Maka, beritahukan kepadaku kemana engkau pergi?” Ikrimah berkata : “Wahai istriku, Aku tidak pergi pada waktu ini, sementara aku ingin diketahui oleh seseorang.” Sang istri berkata : “Engkau harus menceritakan kepadaku!” Ikrimah berkata, : “Baiklah, akan tetapi engkau harus merahasiakannya.” Sang istri berkata, : “Baiklah” Maka, Ikrimah pun menceritakan perihalnya. Dan tidak ada satu pun kejadian kecuali dia menceritakannya. Kemudian Ikrimah berkata kepada istrinya, : “Apakah engkau mau aku bersumpah untukmu?” sang istri menjawab, : “Tidak, karena sesungguhnya hatiku telah percaya terhadap apa yang engkau katakan.”

Ketika waktu pagi tiba, Khuzaimah melunasi hutang-hutangnya, dan memperbaiki keadaannya. Kemudian Khuzaimah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menemui Sulaiman bin Abdul Malik di Palestina. Setelah sesampainya di depan pintu rumah Sulaiman, seorang porter (pelayan yang bertugas menerima tamu dan mengantar masuk) masuk dan memberitahukan Sulaiman tentang kedatangan Khuzaimah yang sudah terkenal kerhormatannya. Dan Sulaiman juga sudah mengenalnya, maka dia mengizinkan Khuzaimah menemuinya. Ketika Khuzaimah memasuki rumah Sulaiman, dia mengucapkan salam kepada Khalifah.

Sulaiman berkata : “Wahai Khuzaimah, apa yang membuatmu lama tidak mengunjungi kami?” Kuzaimah berkata, : “Suatu hal yang buruk.” Sulaiman berkata, : “Mengapa engkau tidak meminta tolong kepada kami?” Khuzaimah berkata, : “Kelemahanku” Sulaiman berkata, : “Apa yang terjadi padamu?” Khuzaimah berkata, : “Aku tidak pernah mendapati hal ini pada malam hari. Malam itu ada seorang laki-laki yang mengetuk pintu rumahku” (kemudian Khuzaimah menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir). Sulaiman berkata, : “Apakah engkau mengenalinya?” Khuzaimah menjawab, : “Aku tidak mengenalinya wahai Amirul Mukminin, karena dia menyamarkan diri, dan aku tidak mendengar darinya kecuali perkataan “Jabir rajawali yang dermawan.” Maka, Sulaiman sangat penasaran ingin mengetahu orang tersebut. Kemudian dia berkata, : “Jika kita mengetahui dia, maka akan kita mengangkat kehormatannya.” Kemudian berkata, : “Berikan kepadaku tongkat!” kemudian Sulaiman mengangkat Khuzaimah untuk memimpin jazirah yang sedang ditangani oleh Ikrimah al-Fayadh. Maka Khuzaimah pun pergi untuk meminta kepemimpinan jazirah. Ketika Khuzaimah sampai di tempat Ikrimah, Ikrimah pun keluar untuk menemuinya seraya mengucapkan salam kepadanya. Lalu Keduanya berjalan masuk. Khuzaimah berhenti di ruang keamiran (tempat Amirul Mukminin bertugas) kemudian dia meminta Ikrimah untuk mengecek pebendaharaan yang ada, dan dia mendapati ada yang janggal/kurang dari harta tersebut. Khuzaimah pun meminta Ikrimah untuk segera menyerahkan harta tersebut. Ikrimah berkata, : “Aku tidak mempunyai harta lagi untuk kuberikan.” Khuzaimah berkata, : “Engkau tetap harus menyerahkannya!” Ikrimah berkata, : “Harta benda itu bukan miliku, maka lakukanlah apa yang engkau mau lakukan!” Maka, Khuzaimah memerintahkan untuk memenjarakan Ikrimah, kemudian Khuzaimah mengutus seseorang untuk meminta kembali kepada Ikrimah. Akan tetapi Ikrimah mengutus kembali utusan itu untuk mengatakan, : “Aku bukan layaknya orang yang melindungi hartanya dengan jiwanya, maka lakukanlah apa yang ingin engkau perbuat!.” Maka Khuzaimah pun memerintahkan untuk membelenggu Ikrimah, dan Ikrimah berada dalam kesempitan seperti itu hingga berbulan-bulan. Hal itu membuatnya sakit parah dan membahayakan dirinya.

Keadaan membahayakan yang menimpa Ikrimah ini sampai kepada sepupunya/istrinya, sehingga istrinya merasa gelisah dan bersedih hati dengan khabar itu. Kemudian istri Ikrimah memanggil bekas budaknya yang cerdas, lalu berkata kepadanya, : “Sekarang pergilah kamu ke pintu rumah Amir Khuzaimah bin Bisyr! Jika kamu sudah memasukinya, maka mintalah dia utuk berbicara empat mata denganmu! Dan jika dia melakukannya, maka katakanlah kepadanya, : ‘Apakah ini imbalan yang engkau berikan kepada Jabir sang rajawali yang dermawan? Engkau membalasnya dengan penjara dan sempitnya belenggu?’.” Maka bekas budak tadi pun melaksanakan perintah tersebut. Tatkala Khuzaimah mendengar perkataan bekas budak tadi, dia langsung berkata, : “Aku telah berburuk sangka kepadanya, apakah dia Jabir sang rajawali yang dermawan?” perempuan itu berkata, : “Ya”.

Seketika itu juga Khuzaimah memerintahkan supaya memasang pelana pada kudanya. Khuzaimah pun pergi bersama orang-orangnya. Lalu dia menemui Ikrimah yang sedang berada dalam ruangan penjara dengan keadaan yang sudah berubah. Keadaannya sudah sangat parah dan membahayakan. Ketika Ikrimah melihat Khuzaimah dan orang-orangnya, hal itu membuatnya marah, lalu dia pun memalingkan kepala kepada Khuzaimah, lantas berkata, : “Apakah ini sebagai ganti darimu?” Khuzaimah berkata, : “Betapa mulia perbuatanmu, tapi begitu buruk balasanku.” Ikrimah menjawab, : “Semoga Allah U mengampuni aku dan kamu.” Kemudian Khuzaimah memerintahkan untuk membuka belenggu besi yang menghimpitnya, lalu Khuzaimah memerintahkan untuk memasangkan belenggu itu di kakinya sendiri. Lantas Ikrimah berkata, : “Apa yang akan engkau lakukan?” “Aku ingin merasakan hal yang buruk sebagaimana kamu.” Ikrimah berkata, : “Aku bersumpah demi Allah U atasmu untuk jangan kamu lakukan!”

Akhirnya mereka berdua keluar menuju rumah Khuzaimah. Lalu Ikrimah mengucapkan kata perpisahan, karena ingin beranjak pergi. Tapi Khuzaimah bertanya kepada Ikrimah, : “Apakah engkau tidak ingin bermalam?” Ikrimah menjawab, : “Lantas apa yang engkau inginkan?” Khuzaimah berkata, : “Aku ingin memperbaiki keadaanmu yang telah usang, karena rasa maluku terhadap sepupumu lebih besar dari pada rasa maluku terhadapmu.” Khuzaimah lalu meminta Ikrimah untuk mandi, setelah selesai mereka berdua masuk ke rumah. Kemudian Khuzaimah berdiri, lalu dia melayani Ikrimah sendiri. Khuzaimah memberikan Ikrimah pakaian dan menghiasinya, lalu membawakan kepadanya harta yang banyak, lalu mereka berdua berjalan menuju rumah Ikrimah, Khuzaimah lantas meminta izin kepada Ikrimah untuk mengemukakan alasan kepada sepupunya/istrinya. Ikrimah pun mengizinkannya. Lalu Khuzaimah mengemukakan alasan kepada istri Ikrimah dengan rasa malu atas kejadian itu.

Setelah itu Khuzaimah meminta Ikriimah untuk pergi bersamanya menemui Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik, yang pada hari itu Amirul Mukminin sedang berada di Ramlah. Pelayan penerima tamu segera masuk memberitahukan kepada Amirul Mukminin tentang kedatangan Khuzaimah bin Bisyr, Amirul Mukminin sangat takjub dengan kedatangan Khuzaimah, lantas dia berkata, : “Seorang wali jazirah/gubernur datang tanpa adanya perintah?! Hal ini tidak mungkin melainkan ada perkara yang besar.” Setelah Khuzaimah masuk, Sulaiman berkata kepadanya sebelum dia sempat mengucapkan salam, : “Bagaimana kabarmu wahai Khuzaimah?” Khuzaimah menjawab, : “Baik wahai Amirul Mukminin ” Sulaiman berkata lagi, : “Apa yang membuatmu datang kemari?” Sulaiman menjawab, : “Aku telah mendapatkan Jabir sang rajawali yang dermawan, dan aku ingin menggembirakan engkau, karena engkau sangat penasaran kepadanya, dan karena tingginya rasa inginmu untuk melihatnya.” Sulaiman berkata, : “Lalu siapakah dia?” Khuzaimah menjawab, : “Ikrimah al-Fayyadh” Sulaiman mengizinkan dia masuk, lantas dia pun masuk dan memberi salam kepada Khalifah. Dan Sulaiman pun menyambutnya dengan baik, lalu mendekatkannya ke tempat duduknya. Lalu Sulaiman berkata kepadanya, : “Wahai Ikrimah, tidaklah perbuatan baikmu kepada Khuzaimah kecuali berakibat buruk atasmu.” Kemudian berkata, : “Tulislah di atas kertas semua keinginanmu, dan apa yang kamu inginkan!” Ikrimah berkata, : “Aku hanya ingin engkau memaafkanku wahai amirulmukminin.” Sulaiman berkata, : “Itu sudah pasti.” Sulaiman pun meminta kertas dan tinta, lalu berkata, : “Tulislah apa yang engkau inginkan!” Ikrimah pun melakukannya. Kemudian Sulaiman memerintahkan orang untuk memnuhi semua permintaannya saat itu juga, lalu memrintahkan untuk memberinya sepuluh ribu dinar, dan dua karung pakaian. Kemudian Sulaiman membaiat Ikrimah lalu diserahkanlah kekuasaan atas Jazirah, Armenia, Azerbaijan kepada Ikrimah, kemudian Sulaiman berkata, : “Urusan Khuzaimah kuserahkan kepadamu, jika engkau mau maka engkau dapat menetapkannya –kepemimpinannya-. Tapi jika engkau mau, engkau juga dapat memecatnya.” Ikrimah berkata, : “Tetapi aku ingin mengembalikan pekerjaanya kepadanya.”

Lalu beranjaklah keduanya, Ikrimah dan Khuzaimah tetap bekerja dengan Sulaiman bin Abdul Malik selama kekhalifahannya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: